Jumat, April 19, 2024

Ledakan di Kafe Rusia Tewaskan Seorang Blogger Pro Militer

Internasional, Jabarupdate: Ledakan terjadi di sebuah kafe di kota terbesar kedua di Rusia, St. Petersburg hari Minggu (2/4/2023).

Peristiwa itu menewaskan seorang blogger militer terkenal yang juga pendukung keras perang di Ukraina, Vladlen Tatarsky.

Beberapa laporan menyebutkan, ada sebuah bom yang disematkan pada patung blogger. Patung itu diberikan kepada korban sebagai hadiah.

Sementara, sejumlah pejabat Rusia menyampaikan, korban yang nama pena Maksim Fomin itu terbunuh ketika ia sedang memimpin sebuah diskusi di sebuah kafe di tepi Sungai Neva di jantung kota bersejarah St Peterburg.

Dikabarkan, sekitar 30 orang terluka dalam ledakan tersebut.

Patung dirinya yang diduga berisikan bom tersebut diberikan oleh seorang wanita ketika Tatarsky sedang bertemu anggota masyarakat.

Acara itu digelar sebuah kelompok patriotik Rusia. Mereka menyatakan bahwa sudah melakukan tindakan pencegahan keamanan. Namun tindakan tersebut terbukti tidak cukup.

Sebelum Ledakan di Kafe Rusia Itu Terjadi, Korban Bertukar Komentar dengan Pelaku

Seorang saksi, Alisa Smotrova mengutarakan, ada perempuan yang mengidentifikasi dirinya sebagai Nastya. Di acara itu dia mengajukan pertanyaan dan bertukar komentar dengan Tatarsky selama diskusi berlangsung.

Dia mengutip Nastya yang mengatakan bahwa ia telah membuat sebuah patung blogger. Tetapi penjaga memintanya untuk meninggalkannya di pintu, karena menduga benda itu adalah bom.

Nastya dan Tatarsky pun bercanda dan tertawa. Nastya kemudian pergi ke pintu, mengambil patung itu dan memberikannya kepada Tatarsky.

Dia dilaporkan meletakkan patung itu di atas meja di dekatnya, dan ledakan pun terjadi.

Smotrova menggambarkan orang-orang di kafe itu berlarian dengan panik. Beberapa ada yang terluka akibat pecahan kaca dan berlumuran darah.

Sementara, kantor berita Interfax Rusia melaporkan, seorang wanita St. Peterburg, Darya Tryopova, ditangkap.

Dia dicurigai terlibat dalam pengeboman tersebut. Sebelumnya, ia juga pernah ditahan lantaran turut serta dalam demonstrasi anti-perang.

Penyidik Menduga Ada Alat Peledak Ditanam di Kafe

Media Rusia mengatakan bahwa para penyelidik melihat patung tersebut sebagai sumber ledakan, namun tidak menutup kemungkinan ada alat peledak yang ditanam di kafe tersebut sebelum kejadian.

Komite Investigasi Rusia, badan investigasi kriminal tertinggi di negara Beruang Putih itu, membuka penyelidikan atas tuduhan pembunuhan.

Tidak ada pihak yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab. Hanya saja, para blogger militer dan komentator patriotik segera menuding Ukraina.

Mereka juga membandingkan pengeboman tersebut dengan pembunuhan Darya Dugina, seorang komentator TV nasionalis, pada bulan Agustus lalu.

Kala itu, sebuah alat peledak yang dikendalikan dari jarak jauh ditanam di mobil SUV-nya. Bom itu meledak saat Dugina sedang mengemudi di pinggiran Moskow.

Pada kejadian tersebut, pihak berwenang Rusia menyalahkan intelijen militer Ukraina. Tetapi Kyiv membantah terlibat.

Bereaksi terhadap insiden terbaru ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan bahwa aktivitas Tatarsky “telah membuatnya dibenci oleh rezim Kyiv”.

Ada catatan yang menyatakan bahwa ia dan blogger militer Rusia lainnya telah lama menghadapi ancaman dari Ukraina.

Ayah Dugina yang bernama Alexander Dugin merupakan filsuf nasionalis. Ia ahli teori politik dan sangat mendukung invasi ke Ukraina.

Ia pun memuji Tatarsky. Bahkan memujinya sebagai pahlawan ‘abadi’. Karena mati untuk menyelamatkan rakyat Rusia.

Sejak pertempuran di Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022, pihak berwenang Ukraina telah menahan diri untuk tidak mengaku bertanggung jawab atas berbagai kebakaran, ledakan, dan pembunuhan yang tampak jelas di Rusia.

Pada saat yang sama, para pejabat di Kyiv menyambut gembira peristiwa-peristiwa semacam itu. Mereka juga bersikeras bahwa Ukraina memiliki hak untuk melancarkan serangan di Rusia.

Seorang pejabat tinggi pemerintah Ukraina menyampaikan, ledakan yang menewaskan Tatarsky di sebuah kafe di Rusia itu merupakan bagian dari kekacauan internal.

Sosok Tatarsky

Tatarsky, yang memiliki nama pena Maxim Fomin. Ia telah mengajukan laporan rutin terkait Ukraina dan memiliki lebih dari 560.000 pengikut di aplikasi Telegram.

Lahir di pusat industri Ukraina, Donbas, Tatarsky pernah bekerja sebagai penambang batu bara sebelum ia memulai bisnis furnitur.

Ketika Tatarsky mengalami kesulitan keuangan, sempat merampok bank dan dijatuhi hukuman penjara.

Tatarsky juga melarikan diri dari tahanan setelah pemberontakan separatis yang didukung Rusia melanda Donbas pada tahun 2014, beberapa minggu setelah aneksasi Moskow atas Semenanjung Krimea di Ukraina.

Kemudian ia bergabung dengan pemberontak separatis dan bertempur di garis depan sebelum beralih menjadi penulis blog.

Tatarsky dikenal karena pernyataannya yang pedas dan retorika pro-perang yang bersemangat.

Selama invasi Rusia ke Ukraina, para blogger militer telah memainkan perannya yang menonjol. Mereka pun berpengaruh dalam arus informasi tentang invasi itu.

Mereka hampir secara universal memperjuangkan tujuan kampanye, tetapi terkadang mengkritik strategi militer Rusia dan keputusan taktis.

Pada saat yang sama, Kremlin telah membungkam suara-suara alternatif yang menentang perang. Pemerintah Rusia menutup kantor-kantor berita, membatasi akses publik terhadap informasi, dan memenjarakan para pengkritik.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News atau gabung di Jabarupdate.id WhatsApp Chanel.

Bagikan Artikel

Komentar

- Advertisement -spot_img
ARTIKEL TERKAIT

Terbaru

- Advertisment -spot_img

Terpopuler