Minggu, April 14, 2024

Polisi Israel Menyerang Jemaah yang Beribadah di Dalam Masjid Al-Aqsa

Internasional, Jabarupdate: Serangan yang penuh kekerasan dilakukan oleh polisi Israel terhadap jemaah Palestina yang sedang beribadah di Masjid Al-Aqsa.

Penyerangan terjadi di komplek Mesjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.

Menurut para pejabat Palestina, sedikitnya 400 orang Palestina ditangkap pada hari Rabu (5/4/2023). Sampai berita ini ditulis, mereka masih berada dalam tahanan Israel di Atarot di Yerusalem Timur yang diduduki.

Saksi mata Palestina mengatakan, pasukan Israel menggunakan kekuatan yang berlebihan. Termasuk granat, setrum, dan gas air mata.

Peristiwa penyeranganenyebabkan luka-luka, sesak nafas pada para jamaah. Polisi Israel juga melakukan pemukulan dengan tongkat dan senapan.

Menurut laporan Bulan Sabit Merah Palestina terdapat 12 korban luka-luka. Mereka juga mengatakan bahwa pasukan Israel mencegah petugas medis untuk mencapai Al-Aqsa.

Hingga Rabu pagi, masih terjadi penggerebekan yang dilakukan oleh pasukan Israel. Mereka terlihat menyerang dan mendorong warga Palestina keluar dari kompleks masjid.

Polisi Israel menyerang dan mencegah para jemaah Palestina untuk beribadah, sedangkan warga Israel diizinkan masuk dengan perlindungan polisi.

Menurut pernyataan polisi Israel, mereka terpaksa memasuki kompleks tersebut setelah “para penghasut bertopeng” mengunci diri mereka di dalam masjid dengan kembang api, tongkat, dan batu.

Setelah Yerusalem Timur dan Tepi Barat diduduki oleh Israel selama berbulan-bulan. Kondisi ini menyebabkan ketegangan meningkat antara kedua belah pihak.

Juga muncul kekhawatiran akan terjadinya kekerasan lebih lanjut seiring dengan datangnya dua hari raya keagamaan yang penting, yaitu bulan puasa Ramadan dan Paskah Yahudi.

Seruan di Media Sosial Sebelum Polisi Israel Menyerang Jemaah Palestina

Serangan yang terjadi pada saat itu telah diantisipasi karena ada seruan di media sosial.  Imbauan warga Palestina untuk datang ke Al-Aqsa guna “mempertahankannya dari penjajah”.

Serangan yang dilakukan oleh polisi Israel terhadap para jamaah ini merupakan suatu kejahatan. Para kelompok Palestina mengutuk serangan terbaru ini.

Mohammad Shtayyeh, Perdana Menteri Otoritas Palestina memberikan sebuah pernyataan bahwa apa yang terjadi di Yerusalem adalah kejahatan besar terhadap para jemaah.

Menurutnya, berdoa di Masjid Al-Aqsa tak perlu atas izin Israel, karena itu adalah hak warga Palestina.

“Bagi rakyat Palestina dan juga muslim di dunia, Al-Aqsa merupakan situs suci dan bersejarah. Penyerbuan ini adalah percikan revolusi melawan penjajah,” tegas dia.

Yordania, yang bertindak sebagai penjaga situs-situs suci umat Kristen dan Muslim di Yerusalem mengutuk penyerbuan Israel terhadap kompleks tersebut.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Mesir menyerukan agar “serangan terang-terangan” Israel terhadap jamaah Al-Aqsa segera dihentikan.

‘Kejahatan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya’

Al-Aqsa merupakan tempat suci ketiga tersuci dalam Islam dan situs paling suci dalam agama Yahudi -yang disebut sebagai Temple Mount-.

Konfrontasi terhadap Al-Aqsa ini telah memicu perang yang mematikan antara Israel dan Hamas Palestina di Gaza di masa lalu.

Hamas mengutuk serangan terbaru di Al-Aqsa dan menyebutnya sebagai “kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

Kelompok pejuang Palestina ini menyerukan warga Palestina di Tepi Barat ” Agar pergi secara massal ke masjid Al-Aqsa untuk mempertahankannya”.

Menurut pernyataan tentara Israel bahwa sekurangnya lima roket berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara di sekitar kota Sderot. Sementara empat roket lainnya jatuh di daerah yang tidak berpenghuni.

Pesawat-pesawat Israel menyerang beberapa tempat di Gaza. Mereka menyerang target-target di sebuah “lokasi militer” di sebelah barat kota dan sebuah lokasi di kamp pengungsi Nuseirat di tengah jalur tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Maram Humaid dari Al Jazeera di Gaza.

Di Gaza, puluhan demonstran turun ke jalan semalam, membakar ban. Bagi mereka Al-Aqsa merupakan salah satu dari sedikit simbol nasional rakyat Palestina yang masih bisa mereka kendalikan.

Namun, mereka khawatir akan perambahan yang dilakukan secara perlahan oleh kelompok-kelompok Yahudi. Seperti yang terjadi di Masjid Ibrahimi (Gua Leluhur) di Hebron. Di sana, separuh bagian masjid diubah menjadi sinagoge setelah tahun 1967.

Gerakan yang dilakukan sayap kanan Israel yang ingin menghancurkan bangunan-bangunan Islam di kompleks Masjid Al-Aqsa dan membangun kuil Yahudi di tempatnya semakin membuat warga Palestina khawatir.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News atau gabung di Jabarupdate.id WhatsApp Chanel.

Bagikan Artikel

Komentar

- Advertisement -spot_img
ARTIKEL TERKAIT

Terbaru

- Advertisment -spot_img

Terpopuler