Ciamis, Jabarupdate: Pertumbuhan wisata berbasis desa di Kabupaten Ciamis memperlihatkan akselerasi signifikan sepanjang 2024.
Dari total 254 daya tarik wisata (DTW) di 27 kecamatan, Kecamatan Cijeungjing memimpin dengan 32 DTW, menegaskan perannya sebagai kantong ekonomi baru berbasis pariwisata desa.
Kabupaten Ciamis yang memiliki 265 desa/kelurahan seluruhnya berstatus bukan tepi laut (non-pesisir), memberi ruang besar bagi model pariwisata daratan.
Bahkan, 194 desa berada di lereng dan kawasan puncak, yang selama ini menjadi penyangga komoditas perkebunan sekaligus destinasi wisata alam, budaya, hingga agrowisata.
Ketua Lentera Desa Wisata, Ahmad Arofiqi menyebut, laju pertumbuhan wisata desa menunjukkan perubahan lanskap ekonomi, sekaligus pergeseran preferensi wisatawan yang kini mencari pengalaman berbasis komunitas, budaya, dan lanskap pedesaan.
“Geliat wisata berbasis desa di Ciamis menandakan desa tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama. Ini bukan sekadar destinasi, tapi ekosistem ekonomi yang tumbuh dari warga desa sendiri,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).
Ia mengungkapkan, selain Cijeungjing, klaster penopang pariwisata desa juga menguat di wilayah lain.
Sedangkan Panjalu menyumbang 23 DTW, diikuti Rancah 20, Cipaku 19, Pamarican 16, serta Sadananya dan Tambaksari masing-masing 15 DTW.
Tambaksari, misalnya, selama ini telah dikenal dengan penanda budaya dan sejarah seperti Museum Fosil dan Kampung Adat Kuta, yang menjadi jangkar narasi pariwisata berbasis tradisi.
Kesiapan pembangunan desa ikut menjadi modal sosial dalam menopang ekosistem ini. Berdasarkan IDM 2024, Ciamis memiliki 210 Desa Mandiri dan 48 Desa Maju, tanpa status desa tertinggal atau sangat tertinggal.
Dominasi status Desa Mandiri membuat pengelolaan desa wisata memiliki landasan partisipatif yang lebih kuat, baik lewat kelompok sadar wisata, BUMDes, koperasi desa, maupun kolaborasi pentahelix di tingkat kecamatan.
Dari sisi infrastruktur dasar, pemerataan akses juga cukup impresif. Seluruh 265 desa/kelurahan memiliki fasilitas Sekolah Dasar (SD), 183 desa telah menyediakan fasilitas SMP, dan 79 desa memiliki akses SMA.
Sektor kesehatan pun relatif siap, setiap kecamatan minimal memiliki 1 Puskesmas, dengan dukungan Puskesmas Pembantu terbanyak di Panawangan (7) dan Rancah (6), memberi rasa aman bagi kebutuhan warga dan wisatawan skala desa.
Namun, kata Arofiqi, disparitas muncul pada layanan publik penunjang konektivitas ekonomi. Hanya 26 desa yang memiliki layanan pos di seluruh Ciamis, memperlihatkan ruang kebijakan yang masih perlu digenjot, terutama untuk kebutuhan desa wisata yang mulai ramai dan berbasis jejaring UMKM.
Dalam evaluasi perkembangan desa 2024, kata dia, ada 6 desa yang dikategorikan Kurang Berkembang, tersebar masing-masing 1 desa di Kecamatan Banjarsari, Tambaksari, Ciamis, Cihaurbeuti, Sadananya, dan Jatinagara.
Meskipun kecil secara proporsi, lanjutnya, data ini penting sebagai pengingat bahwa pertumbuhan desa wisata perlu diiringi pemerataan kebijakan agar tidak meninggalkan kantong desa yang masih butuh penguatan model pendampingan dan infrastruktur ekonomi desa.
Dia juga menilai, pertumbuhan DTW berbasis desa memberi dampak turunan yang luas: perputaran kuliner desa, homestay, kerajinan lokal, atraksi budaya, hingga paket wisata berbasis lanskap agroforestri dan sejarah kampung adat.
Arofiqi menegaskan, dengan topografi dominan lereng/puncak, status IDM mayoritas Desa Mandiri, dan konsentrasi DTW yang terus bertambah, peta wisata berbasis desa di Ciamis pada 2024 menjadi bukti bahwa kabupaten ini sedang menata simpul baru ekonomi yang berakar pada komunitas lokal, bukan sekadar kunjungan musiman.




