Kemarau Panjang Meluas, BPBD Tasikmalaya Distribusikan Air Bersih ke 86 Desa Terdampak Kekeringan

Tasikmalaya, Jabarupdate : Krisis air bersih akibat musim kemarau panjang semakin dirasakan masyarakat Kabupaten Tasikmalaya. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya terus melakukan pendistribusian air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan.

Hingga awal Agustus 2026, tercatat sebanyak 86 desa yang berada di 19 kecamatan telah mendapatkan bantuan pasokan air bersih. Wilayah yang menjadi prioritas distribusi merupakan daerah dengan kondisi geografis perbukitan dan dataran tinggi yang memiliki tingkat kerawanan kekeringan cukup tinggi saat musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, mengatakan kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang menyebabkan sumber air warga mulai mengalami penurunan debit hingga sebagian sumur tidak lagi dapat digunakan.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih masyarakat meningkat. BPBD bersama sejumlah unsur terkait pun melakukan langkah cepat dengan mengirimkan bantuan air ke daerah yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air.

“Musim kemarau membuat banyak sumber air masyarakat mengalami penurunan. Sampai saat ini kami sudah melakukan pendistribusian air bersih ke 86 desa yang tersebar di 19 kecamatan,” ujar Roni, Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan, status siaga darurat bencana kekeringan di Kabupaten Tasikmalaya masih diberlakukan hingga September mendatang. Selama masa tersebut, BPBD akan terus melakukan pemantauan dan memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Dalam pelaksanaan distribusi air bersih, BPBD tidak bekerja sendiri. Sejumlah pihak ikut terlibat membantu penanganan krisis air, di antaranya unsur TNI, Polri, Perumda Tirta Sukapura, serta Arta Galunggung.

“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar kebutuhan air bersih masyarakat bisa terpenuhi. Distribusi dilakukan berdasarkan laporan dan permintaan dari wilayah yang mengalami kekurangan air,” katanya.

Roni menyebut, persoalan kekeringan yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain faktor musim kemarau dan perubahan iklim, kondisi lingkungan serta berkurangnya debit sumber mata air juga menjadi penyebab semakin meluasnya wilayah terdampak.

Di beberapa wilayah, masyarakat masih mengandalkan sumur gali sebagai sumber utama kebutuhan sehari-hari. Namun akibat musim kemarau, sebagian sumur mengalami kekeringan sehingga warga harus mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan air.

“Dampaknya sangat dirasakan masyarakat karena air digunakan untuk kebutuhan dasar, mulai dari memasak, minum, mandi, mencuci hingga kebutuhan sanitasi,” ungkapnya.

Selain persoalan kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Sejumlah petani mengalami kesulitan mendapatkan air untuk mengairi lahan, sehingga berpotensi menurunkan produktivitas hasil pertanian.

Salah seorang warga Kecamatan Cineam, Soiman, mengungkapkan kondisi kekeringan sudah dirasakan masyarakat sejak beberapa bulan terakhir. Menurutnya, warga mulai kesulitan mendapatkan air karena sumur-sumur yang biasanya menjadi sumber kebutuhan sehari-hari mulai mengering.

“Musim kemarau sejak awal April membuat air semakin sulit didapat. Banyak warga akhirnya harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” kata Soiman.

Ia menyebut, sebagian warga terpaksa membeli air isi ulang dengan harga yang cukup mahal dibandingkan kondisi normal. Untuk satu galon air, masyarakat harus mengeluarkan biaya sekitar Rp15 ribu.

“Kami berharap hujan segera turun, terutama pada bulan Agustus ini. Karena bukan hanya air bersih yang menjadi masalah, tetapi lahan pertanian juga terdampak,” ujarnya.

Menurut Soiman, kondisi lahan pertanian di wilayahnya cukup memprihatinkan. Sebagian area persawahan mengalami gangguan akibat minimnya pasokan air, bahkan diperkirakan sekitar 80 persen lahan mengalami gagal tanam maupun gagal panen.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Tasikmalaya mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau berlangsung. Warga juga diminta segera melaporkan apabila wilayahnya mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Pemerintah daerah juga terus melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang semakin panjang. Selain bantuan distribusi air, diperlukan upaya jangka panjang melalui penyediaan infrastruktur air bersih agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan saat terjadi kekeringan.

Dengan kondisi cuaca yang masih belum menentu, BPBD memastikan kesiapsiagaan akan terus dilakukan hingga masa siaga darurat berakhir. Pemerintah berharap curah hujan segera kembali normal sehingga tekanan terhadap kebutuhan air bersih masyarakat dapat berkurang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini