Dalang Cilik Tasikmalaya Main Wayang via Medsos

Dalamg Cilik Tasikmalaya
Dalang cilik asal Tasikmalaya, Abang Aqsha, berfoto bersama Direktur LSMI HMI Cabang Tasikmalaya, Cepi Sultoni, usai mementaskan lakon wayang golek "Sastra Jingga Jadi Relawan" di Jamanis, Tasikmalaya, Sabtu (15/8/2026)/Dok. Istimewa/LSMI HMI Tasikmalaya

Tasikmalaya, Jabarupdate: Seorang anak berusia empat tahun asal Kabupaten Tasikmalaya, Abang Aqsha (M. Aqsha Mursyidan Usman), mendobrak tren digital Generasi Alpha dengan memilih panggung wayang golek tradisional sebagai ruang berkarya.

Dalang cilik putra daerah asli Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya ini sukses mementaskan lakon “Sastra Jingga Jadi Relawan” dalam pagelaran seni tradisi yang berlangsung di Dusun Lampegan, Desa Gresik, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, pada Sabtu (15/8/2026).

Respons Positif dan Apresiasi dari Komunitas Seni

Aksi memukau dari dalang cilik balita ini menarik perhatian banyak pihak, salah satunya Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya yang turut hadir langsung untuk memberikan apresiasi.

Kehadiran lembaga tersebut menjadi wujud nyata dukungan terhadap upaya pelestarian seni padalangan di tingkat daerah.

Direktur LSMI HMI Cabang Tasikmalaya, Cepi Sultoni, menyampaikan rasa kagum dan bahagianya saat menyaksikan langsung performa dari Abang Aqsha di atas panggung budaya tersebut.

“Bahagia sekali ada Generasi Alpha, umur 4 tahun, yang melestarikan seni budaya leluhur, khususnya padalangan. Yang kita tahu, zaman sekarang Generasi Alpha banyak terfokus pada game atau media sosial. Tetapi Abang Aqsha justru memilih menggunakan media sosial untuk berkarya lewat padalangan,” ungkap Cepi.

Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Merawat Identitas

Kemunculan Abang Aqsha di dunia padalangan dinilai membawa angin segar di tengah tantangan modernisasi yang kerap menjauhkan anak-anak dari budaya lokal.

Alih-alih terasing oleh teknologi, figur dalang cilik ini menunjukkan bahwa kemajuan zaman justru bisa diadopsi menjadi medium pelestarian baru yang efektif.

Cepi Sultoni menambahkan bahwa esensi dari kesenian tradisional tidak boleh mati dan harus mampu bertransformasi mengikuti perkembangan platform digital agar bisa menjangkau audiens yang jauh lebih luas.

“Wayang tidak harus berhenti di panggung. Cerita, karakter, suara, dan nilai-nilai yang ada di dalamnya bisa berjalan ke ruang digital. Media sosial bisa menjadi jalan bagi seni tradisi untuk bertemu dengan generasi baru,” tambahnya.

Langkah yang diambil oleh Abang Aqsha menjadi sebuah pengingat bahwa merawat identitas bangsa tidak selalu harus dimulai dari gerakan skala besar.

Kepedulian tersebut dapat tumbuh secara organik dari lingkup keluarga, lingkungan kampung halaman, serta pemanfaatan teknologi secara positif.

LSMI HMI Cabang Tasikmalaya berharap momentum ini dapat memicu lahirnya generasi penerus lain yang melek teknologi namun tetap memegang teguh akar kebudayaan lokal di masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini