Kritik Mantan Dubes: Benahi Guru Honorer Sebelum Gaya-gayaan Jadi Penengah Dunia

Benahi Guru Honorer
Dian Wirengjuri/Tangkapan Layar YouTube Kompascom

Benahi guru honorer sebelum ambisi jadi penengah dunia, kata mantan Dubes RI untuk Iran Dian Wirengjurit. Fokus kesejahteraan rakyat dan infrastruktur dalam negeri dulu.

Nasional, Jabarupdate: Mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran periode 2012-2016, Dian Wirengjuri, melontarkan kritik terhadap ambisi diplomasi luar negeri pemerintah Indonesia di tengah berbagai persoalan domestik yang belum tuntas.

Ia meminta pemerintah untuk lebih fokus benahi Guru Honorer dan meningkatkan kesejahteraan rakyat daripada memaksakan diri menjadi juru damai konflik internasional tanpa posisi tawar yang kuat.

Kritik ini muncul menyusul melemahnya posisi tawar (leverage) Indonesia di mata internasional, khususnya dalam hubungan diplomatik dengan Iran.

Dian menilai Indonesia kini kehilangan taji sebagai penengah karena kebijakan luar negeri yang dianggap tidak konsisten dengan prinsip politik bebas aktif.

Prioritas Domestik di Atas Diplomasi Global

Dalam sebuah wawancara mendalam, Dian Wirengjurit menekankan bahwa energi pemerintah seharusnya dialokasikan untuk menyelesaikan masalah mendesak di dalam negeri.

Salah satu poin utama yang ia soroti adalah nasib tenaga pendidik yang masih jauh dari kata layak.

“Enggak usah ngurusin Timur Tengah deh, ngurusin dalam negeri aja. benahi Guru Honorer, beresin gajinya, kasihan tuh,” tegas Dian.

Menurutnya, sangat ironis jika Indonesia ingin terlihat “gagah” di panggung dunia sebagai mediator, sementara di dalam negeri masih banyak rakyat yang menderita akibat ketimpangan ekonomi dan infrastruktur.

Potret Buram Infrastruktur dan Kesejahteraan

Selain seruan untuk benahi Guru Honorer, Dian juga memaparkan realitas pahit mengenai kondisi infrastruktur di berbagai daerah.

Ia mencontohkan kasus ibu hamil di Sulawesi dan Kalimantan yang harus melahirkan di pinggir jalan karena akses jalan yang rusak parah tidak dapat dilalui kendaraan.

Dia juga menyoroti mirisnya perjuangan anak-anak sekolah di pelosok yang harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan bergelantungan pada seutas tali karena ketiadaan jembatan.

Baginya, masalah-masalah dasar seperti ini lebih patut mendapatkan perhatian dan dana pemerintah dibandingkan mengejar citra sebagai juru damai global yang saat ini justru diragukan efektivitasnya oleh negara lain.

Hilangnya Daya Ungkit Internasional

Dian menjelaskan bahwa keinginan Indonesia menjadi penengah, misalnya dalam konflik Iran-Amerika Serikat, tidak membuahkan hasil karena Indonesia tidak memiliki “kartu as” seperti Pakistan yang memiliki kekuatan nuklir.

Alih-alih disegani, Indonesia dianggap telah menyakiti hati negara sahabat seperti Iran karena bergabung dengan mekanisme perdamaian bentukan Barat yang meninggalkan semangat Non-Blok dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Sikap diplomasi yang dinilai “mencle-mencle” atau tidak konsisten ini membuat langkah Indonesia menjadi mediator tidak lagi “laku” di pasar internasional.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah menarik diri dari ambisi tersebut jika hanya berujung pada pengabaian urusan dalam negeri.

Membangun Kekuatan dari Dalam

Sebagai penutup, Dian Wirengjurit meyakini bahwa kehormatan sebuah negara di mata dunia tidak didapat dari sekadar menawarkan diri menjadi mediator, melainkan dari keberhasilan mengelola negaranya sendiri.

Jika Indonesia berhasil benahi Guru Honorer, membangun infrastruktur yang merata, dan menjamin kesejahteraan rakyatnya, maka dunia internasional dengan sendirinya akan datang meminta bantuan Indonesia untuk menjadi penengah.

“Kalau Indonesia bisa benahin dalam negeri, enggak usah (menawarkan diri), pasti diminta (jadi penengah),” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini