Pemuda Tasikmalaya Harus Bergerak Cegah Kekerasan dan Geng Motor

Tasikmalaya, Jabarupdate : Kematian seorang remaja berusia 16 tahun setelah peristiwa yang diduga berkaitan dengan bentrokan geng motor menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat. Tragedi tersebut semestinya tidak berhenti sebagai kabar duka, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan di kalangan anak muda.

Di balik peristiwa tersebut, ada keluarga yang kehilangan anak. Ada cita-cita yang terhenti dan masa depan seorang remaja yang tidak lagi bisa dilanjutkan.

Karena itu, persoalan ini perlu dilihat lebih luas. Bukan hanya mengenai siapa yang nantinya terbukti bersalah, tetapi juga mengapa persoalan di kalangan anak muda bisa berkembang hingga menimbulkan korban.

Informasi mengenai penyebab kematian korban tentu masih harus menunggu hasil penyelidikan aparat. Berbagai informasi yang beredar di masyarakat juga tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta sebelum dibuktikan melalui proses hukum.

Namun, terlepas dari hasil penyelidikan nantinya, satu hal penting tidak boleh diabaikan. Anak muda membutuhkan perhatian dan pendampingan sebelum mereka terjerumus ke dalam persoalan kekerasan.

Pemuda Membutuhkan Ruang Positif

Peran organisasi kepemudaan menjadi sangat penting dalam kondisi seperti ini.

Karang Taruna, misalnya, selama ini dikenal melalui kegiatan sosial, olahraga, perlombaan, peringatan hari besar nasional hingga kegiatan hiburan di lingkungan masyarakat.

Kegiatan tersebut tentu memiliki manfaat. Namun, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks.

Remaja menghadapi tekanan pergaulan, persoalan pendidikan, sulitnya memperoleh pekerjaan, pengaruh media sosial hingga kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan.

Sebagian anak muda mampu menyalurkan energinya melalui olahraga, seni, komunitas dan kegiatan kreatif. Namun, tidak semua memiliki akses terhadap ruang positif tersebut.

Ketika ruang untuk berkegiatan semakin terbatas, jalanan bisa menjadi tempat mencari teman, identitas dan rasa memiliki.

Persoalannya muncul ketika solidaritas dibangun melalui kekerasan, tawuran, konvoi berbahaya atau tindakan yang mengganggu keamanan masyarakat.

Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh mereka yang terlibat. Masyarakat juga bisa menjadi korban.

Penanganan Geng Motor Tidak Cukup dengan Penindakan

Pencegahan geng motor dan kekerasan remaja tidak bisa hanya mengandalkan patroli serta penindakan hukum.

Polisi memiliki tugas penting dalam menjaga keamanan dan menegakkan hukum. Namun, persoalan sosial yang berada di belakang perilaku anak muda membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Pemerintah Kota Tasikmalaya perlu memastikan kebijakan kepemudaan benar-benar menyentuh kebutuhan generasi muda.

Pertanyaannya sederhana. Apakah ruang publik yang tersedia sudah cukup? Apakah lapangan olahraga dapat digunakan anak muda secara aman dan terjangkau?

Bagaimana dengan komunitas seni, musik, otomotif, teknologi, olahraga dan kewirausahaan?

Begitu pula dengan remaja yang putus sekolah atau belum memiliki pekerjaan. Mereka membutuhkan akses terhadap pendidikan keterampilan dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.

Langkah-langkah tersebut jauh lebih penting daripada sekadar membuat kegiatan seremonial setelah sebuah tragedi terjadi.

Jangan sampai setiap persoalan kekerasan yang melibatkan anak muda hanya direspons dengan rapat, seminar, deklarasi, kemudian berhenti tanpa tindak lanjut yang nyata.

KNPI dan Karang Taruna Harus Hadir di Tengah Pemuda

Organisasi kepemudaan juga perlu melakukan evaluasi terhadap perannya.

KNPI memiliki posisi strategis untuk membawa persoalan pemuda ke tingkat kebijakan. Namun, kerja kepemudaan tidak seharusnya berhenti di ruang rapat atau agenda organisasi.

Persoalan anak muda harus dibicarakan langsung bersama mereka.

Datangi komunitas motor. Temui kelompok olahraga. Masuk ke lingkungan sekolah dan kampung. Dengarkan apa yang menjadi keresahan mereka.

Sebab ada perbedaan besar antara berbicara tentang pemuda dan berbicara bersama pemuda.

Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan seminar atau kegiatan formal.

Seorang remaja mungkin tidak membutuhkan seminar motivasi. Bisa jadi ia membutuhkan lapangan olahraga, pelatihan keterampilan, pekerjaan, komunitas atau sekadar seseorang yang bersedia mendengarkan persoalannya.

Pendekatan seperti inilah yang perlu diperkuat.

Keluarga dan Sekolah Punya Peran Penting

Pencegahan kekerasan remaja juga tidak bisa dilepaskan dari keluarga.

Orang tua merupakan lingkungan pertama yang dapat melihat perubahan perilaku anak. Ketika anak mulai sering pulang larut malam, berubah dalam pergaulan, meninggalkan sekolah, mudah marah atau semakin tertutup, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian.

Perubahan perilaku memang tidak otomatis berarti seorang anak terlibat dalam kegiatan negatif. Namun, komunikasi yang terbuka dapat menjadi benteng awal agar anak tidak merasa sendirian ketika menghadapi masalah.

Sekolah juga memiliki tanggung jawab serupa.

Guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memiliki peran dalam melihat perubahan perilaku peserta didik.

Siswa yang mulai sering tidak masuk sekolah, menarik diri, terlibat konflik atau mengalami perubahan perilaku secara drastis perlu mendapatkan pendampingan sejak dini.

Dengan demikian, persoalan geng motor dan kekerasan remaja tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan saja.

Polisi membutuhkan dukungan masyarakat. Pemerintah membutuhkan masukan organisasi kepemudaan. Karang Taruna membutuhkan dukungan pemerintah.

Sekolah membutuhkan keterlibatan keluarga, sementara keluarga membutuhkan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak.

Jangan Menunggu Korban Berikutnya

Yang perlu diubah adalah cara berpikir bersama.

Jangan menunggu seorang remaja terlibat kekerasan baru kemudian semua pihak bergerak.

Jangan menunggu korban berjatuhan baru mencari solusi.

Dan jangan menjadikan kematian seorang anak sekadar momentum untuk membuat slogan.

Jika ingin menyelamatkan generasi muda Tasikmalaya, program pencegahan harus berjalan sebelum persoalan muncul.

Karang Taruna dapat menghidupkan kembali kegiatan kepemudaan di tingkat kampung. KNPI dapat mengawal kebijakan pemuda agar tidak berhenti sebagai program administratif.

Pemerintah dapat memperluas ruang olahraga, kreativitas dan pelatihan kerja. Sekolah memperkuat pendampingan. Polisi meningkatkan pendekatan preventif bersama masyarakat.

Di sisi lain, keluarga perlu memperkuat komunikasi dengan anak.

Semua itu tidak harus dimulai dengan program besar.

Satu lapangan yang kembali ramai oleh kegiatan positif bisa lebih berarti daripada satu spanduk kampanye.

Satu pelatihan kerja yang mampu membuat anak muda mandiri bisa lebih bermanfaat daripada seminar yang hanya berlangsung beberapa jam.

Bahkan satu komunitas yang berhasil menjauhkan puluhan remaja dari pergaulan berisiko bisa memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada puluhan unggahan di media sosial.

Tasikmalaya Membutuhkan Kehadiran

Kota Tasikmalaya tidak kekurangan anak muda yang memiliki energi dan kreativitas. Yang dibutuhkan adalah arah.

Energi tersebut jangan hanya dipandang sebagai ancaman ketika muncul di jalan. Jika diarahkan dengan baik, energi anak muda dapat menjadi kekuatan melalui olahraga, seni, pendidikan, teknologi, kewirausahaan, komunitas dan pekerjaan.

Karena itu, tragedi yang menimpa remaja tersebut harus menjadi momentum untuk berbenah.

Biarkan aparat mengungkap perkara secara hukum. Jangan mendahului proses penyelidikan dengan tuduhan.

Namun, pemerintah dan organisasi kepemudaan tidak perlu menunggu hasil penyelidikan untuk mulai melakukan pencegahan.

Satu nyawa anak muda sudah terlalu mahal untuk dijadikan alasan menunda tindakan.

Tasikmalaya membutuhkan organisasi kepemudaan yang tidak hanya mampu menyusun agenda, tetapi juga hadir di tengah kehidupan anak muda.

Bukan sekadar membuat kegiatan untuk mereka, melainkan berjalan bersama mereka.

Sebab persoalan generasi muda tidak akan selesai hanya dengan semakin banyak rapat.

Yang dibutuhkan adalah kehadiran.

Kehadiran di kampung. Kehadiran di sekolah. Kehadiran di lapangan. Kehadiran di komunitas. Kehadiran di tengah keluarga.

Dan yang paling penting, kehadiran sebelum semuanya terlambat.

Jangan sampai kita baru kembali berbicara tentang masa depan pemuda setelah seorang anak kehilangan masa depannya.

Sebab setiap remaja yang berhasil dijauhkan dari kekerasan bukan sekadar satu orang yang terhindar dari masalah.

Itu berarti satu keluarga yang tidak kehilangan anak, satu cita-cita yang tetap hidup, dan satu masa depan yang masih bisa diperjuangkan.

Editor: (JU/Rizal Nurramdhani)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini