
Sukabumi, Jabarupdate: Kematian bocah di Sukabumi, Raya, seorang anak berusia tiga tahun, menjadi sorotan Didi Irawadi Syamsuddin, mantan anggota DPR RI.
Tragedi ini, menurut Didi, mencerminkan kegagalan sistem perlindungan sosial dan kesehatan di Indonesia, khususnya bagi warga termiskin.
Raya meninggal dunia pada 22 Juli 2025 akibat cacingan dan penyakit paru-paru, kondisi yang seharusnya dapat dicegah dengan layanan kesehatan primer yang memadai.
Tragedi Kematian Bocah di Sukabumi
Raya, anak dari pasangan Udin (32) dan Endah (38) di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Sukabumi, Jawa Barat, hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Video viral di media sosial memperlihatkan tubuhnya dipenuhi cacing, dengan telur dan larva masih bersemayam.
Dikutip Kompascom pada Rabu (20/8/2025), Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, mengungkapkan bahwa orangtua Raya diduga mengalami keterbelakangan mental, sehingga kemampuan merawat anak sangat terbatas.
Menurutnya, Raya sering bermain di kolong rumah bersama ayam, hidup dalam kondisi tidak sehat.
Keluarga Raya tidak memiliki kartu keluarga (KK) maupun BPJS Kesehatan, yang menjadi hambatan utama dalam mengakses pengobatan.
Meski sempat dirawat di klinik dan puskesmas, kondisi Raya memburuk hingga akhirnya mendapat bantuan filantropi “Rumah Teduh” untuk perawatan selama sembilan hari.
Sayangnya, upaya tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan Raya, dan ia meninggal dunia.
Kritik Didi Irawadi: Sistem Kesehatan dan BPJS Gagal
Didi Irawadi, yang juga pengacara dan redaktur Jurnal Hukum & Keadilan, menegaskan bahwa kematian bocah di Sukabumi adalah bukti nyata kegagalan negara.
“Seorang anak mati karena cacingan di abad ke-21 adalah tamparan keras. Negara hanya hadir setelah kasus viral dan publik marah,” kritiknya.
Menurut Didi, BPJS Kesehatan, yang digadang-gadang sebagai jaring pengaman sosial, justru bersifat diskriminatif karena mensyaratkan dokumen formal seperti KTP dan KK, yang sering tidak dimiliki keluarga miskin.
Didi juga menyoroti lemahnya layanan kesehatan primer. Posyandu dan puskesmas gagal mendeteksi dini kondisi Raya, sementara program obat cacing massal dan edukasi sanitasi hanya menjadi retorika.
“Koordinasi lintas sektor, seperti dinas kesehatan, sosial, dan pemerintah desa, berjalan sendiri-sendiri. Ini memperparah ketimpangan akses,” ujarnya.
Kemiskinan Multidimensi dan Kegagalan Program Pemerintah
Kematian bocah di Sukabumi ini tidak lepas dari kemiskinan multidimensi yang melanda keluarga Raya.
Sanitasi buruk, gizi rendah, dan lingkungan kumuh menjadi pemicu penyakit cacingan dan TBC yang diderita Raya.
Padahal, pemerintah memiliki program seperti dana desa dan pemberantasan TBC nasional.
Namun, menurut Didi, program-program ini gagal menjangkau kelompok paling rentan.
“Negara harus proaktif mendata warga miskin, membuka akses BPJS tanpa hambatan administrasi, dan memastikan sanitasi serta rumah layak,” tegasnya.
Tuntutan Aksi Nyata
Didi menyerukan reformasi sistemik untuk mencegah tragedi serupa. Ia mendesak pemerintah untuk memperkuat layanan kesehatan preventif, seperti pemantauan gizi dan edukasi sanitasi, serta menghapus hambatan birokrasi dalam akses BPJS.
“Jika seorang anak bisa mati karena penyakit yang bisa dicegah, untuk siapa negara ini bekerja?” tanya Didi, menggugat kepekaan pemerintah terhadap warga termiskin.



