Ciamis, jabarupdate.co.,- Ketersediaan bahan pokok penting (bapokting) di Pasar Rancah, Kabupaten Ciamis, dipastikan dalam kondisi relatif aman.
Namun di balik stabilnya pasokan tersebut, pedagang mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat yang disebut mencapai 50 hingga 70 persen dibandingkan tahun lalu.

Fakta itu terungkap saat kunjungan kerja anggota DPRD Kabupaten Ciamis dari Fraksi Partai NasDem, Toto Marwoto, yang melakukan monitoring langsung terhadap harga dan ketersediaan komoditas strategis di pasar tradisional tersebut.
Dalam dialog dengan pedagang, Toto menemukan bahwa sejumlah komoditas seperti beras, minyak goreng, gula pasir, telur, dan daging masih tersedia dengan pasokan mencukupi.
“Distribusi pun terpantau lancar tanpa adanya kelangkaan berarti. Secara umum stok bapokting di Pasar Rancah aman. Tidak ada kelangkaan signifikan. Namun para pedagang menyampaikan bahwa daya beli masyarakat menurun cukup drastis. Bahkan ada yang mengaku omzetnya turun hingga 50 sampai 70 persen dibandingkan tahun lalu,” ujar Toto.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Stabilitas stok dan harga, kata dia, tidak akan berdampak maksimal jika tidak diiringi dengan peningkatan daya beli masyarakat.
“Pasar tradisional adalah indikator ekonomi riil. Kalau transaksi lesu, artinya ada tekanan pada sisi konsumsi masyarakat. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah,” tegasnya.
Menanggapi hasil kunjungan tersebut, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Peringatan dustrian dan Perdagangan (DKUKMPP)Kabupaten Ciamis, Dadan Wiadi, menyatakan bahwa pihaknya secara rutin melakukan monitoring harga dan stok bapokting di sejumlah pasar tradisional, termasuk Pasar Rancah.
“Kami menyambut baik kunjungan DPRD sebagai bagian dari fungsi pengawasan dan sinergi bersama. Berdasarkan hasil pemantauan kami, ketersediaan bahan pokok di Pasar Rancah masih aman dan distribusi berjalan lancar,” kata Dadan.
Ia menjelaskan, fluktuasi harga pada beberapa komoditas masih dalam batas wajar dan terkendali.
DKUKMPP juga terus berkoordinasi dengan distributor dan pelaku usaha guna menjaga stabilitas pasokan.
Terkait keluhan pedagang soal turunnya daya beli, Dadan mengakui adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih selektif dan cenderung menahan belanja.
“Penurunan daya beli memang dirasakan pedagang. Karena itu kami memperkuat pengawasan harga, mencegah praktik penimbunan, serta menyiapkan langkah antisipatif seperti operasi pasar jika diperlukan,” ujarnya.
Perlu Strategi Jaga Perputaran Ekonomi
Kondisi di Pasar Rancah mencerminkan tantangan ekonomi daerah saat ini. Di satu sisi, stabilitas stok bapokting di Ciamis tetap terjaga. Di sisi lain, melemahnya daya beli menjadi tantangan yang berpotensi memengaruhi keberlangsungan usaha pedagang kecil.
Sinergi antara DPRD dan Pemerintah Kabupaten Ciamis diharapkan mampu melahirkan kebijakan strategis, mulai dari pengendalian inflasi daerah, penguatan sektor UMKM, hingga stimulus ekonomi berbasis pasar tradisional.
Dengan langkah konkret dan terukur, stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok tidak hanya terjaga, tetapi juga mampu mendorong kembali gairah belanja masyarakat serta memperkuat ekonomi lokal di Kabupaten Ciamis. (Adv/NS)




