
Ciamis, Jabarupdate: Kondisi perekonomian yang belum stabil serta perubahan pola bermain anak menjadi tantangan serius bagi pedagang mainan anak Ciamis.
Hal itu dirasakan Yayat (50), pedagang mainan anak keliling asal Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, yang sudah belasan tahun berjualan di kawasan Pasar Manis Ciamis, Jawa Barat.
Yayat mengaku, dalam beberapa tahun terakhir jumlah pembeli terus menurun. Jika sebelumnya ia mampu meraih pendapatan ratusan ribu rupiah per hari, kini penghasilannya jauh dari angka tersebut.
“Sekarang sangat berbeda dengan tahun-tahun dulu. Dulu pendapatan bisa Rp200 ribu sampai Rp250 ribu per hari, sekarang dapat Rp50 ribu saja sudah bersyukur,” ujar Yayat, Senin (2/1/2026).
Ia mengatakan, sejak pagi hingga sore hari tetap berkeliling menjajakan berbagai jenis mainan anak, mulai dari harga murah hingga puluhan ribu rupiah. Namun, sepinya minat beli membuat hasil penjualan kian tidak menentu.
Menurut Yayat, kemajuan teknologi menjadi salah satu faktor utama menurunnya penjualan mainan anak.
Anak-anak saat ini lebih tertarik bermain gawai dibandingkan mainan konvensional.
“Sekarang anak-anak kebanyakan pegang gadget. Mainan sudah mulai ditinggalkan,” katanya.
Meski kondisi tersebut menyulitkan perekonomian keluarganya, Yayat tetap bertahan berjualan. Ia mengandalkan usaha tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan satu anaknya.
“Ini satu-satunya usaha yang saya punya. Daripada tidak ada penghasilan sama sekali, ya tetap saya jalani,” ungkapnya.
Yayat berharap kondisi ekonomi ke depan bisa membaik sehingga minat masyarakat terhadap mainan anak kembali meningkat, dan para pedagang mainan anak Ciamis bisa kembali merasakan hasil yang lebih layak dari jerih payah mereka.
Laporan: Maharaja



