Francesco Acerbi: Penyintas Kanker, Penyelamat Inter di Semifinal Liga Champions

Francesco Acerbi
Lambang/Bendera Inter Milan dan Selebrasi Francesco Acerbi/Ist

Olahraga, Jabarupdate: Di usia 37 tahun, Francesco Acerbi tak hanya menaklukkan kanker testis dua kali, tetapi juga menjadi pahlawan Inter Milan dengan gol penyelamat di semifinal Liga Champions melawan Barcelona.

Kisahnya adalah bukti nyata bahwa tekad dan pengalaman mampu mengatasi segala rintangan.

Pada malam yang penuh drama di Stadion Giuseppe Meazza, Rabu (7/5/2025), Francesco Acerbi menjadi pusat perhatian.

Bek tengah Inter Milan berusia 37 tahun ini bukan hanya benteng pertahanan, tetapi juga penyelamat timnya.

Golnya di menit-menit akhir babak kedua menyamakan kedudukan 3-3 melawan Barcelona, memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu.

Davide Frattesi kemudian mengunci kemenangan Inter dengan gol pada menit ke-99, membawa Inter ke final Liga Champions dengan agregat 7-6.

Namun, di balik gol heroik itu, ada cerita yang jauh lebih besar: perjuangan Acerbi melawan kanker testis yang mengguncang hidupnya.

Diagnosa kanker pada 2013, saat bergabung dengan Sassuolo, menjadi titik balik. Setelah operasi dan kemoterapi, Acerbi bangkit, kembali ke lapangan, dan kini menjadi inspirasi bagi jutaan penggemar sepak bola.

Pahlawan di Lapangan: Gol Penyelamat Acerbi

Semifinal Liga Champions melawan Barcelona adalah panggung yang menegangkan. Inter Milan sempat unggul 2-0 melalui gol Lautaro Martinez dan penalti Hakan Calhanoglu.

Namun, Barcelona bangkit dengan tiga gol balasan dari Eric Garcia, Dani Olmo, dan Raphinha.

Ketika kekalahan tampak di depan mata, Acerbi muncul. Golnya di injury time bukan sekadar penyama kedudukan, tetapi juga suntikan semangat bagi Inter untuk melaju ke perpanjangan waktu.

“Dia adalah contoh nyata bahwa usia hanyalah angka,” kata pelatih Inter Milan, Simone Inzaghi, memuji ketenangan dan keberanian Acerbi.

Meskipun kecepatannya tak lagi seperti masa muda, kecerdikan posisi dan pengalamannya menjadikannya kunci pertahanan Inter.

Statistik membuktikan: Acerbi telah membungkam striker top seperti Erling Haaland dan Romelu Lukaku, menjadikannya andalan melawan tim-tim besar.

Perjuangan Melawan Kanker: Dua Kali Bangkit

Kisah Acerbi lebih dari sekadar sepak bola. Pada 2013, saat menjalani tes medis di Sassuolo, ia didiagnosis menderita kanker testis.

Operasi pengangkatan tumor dilakukan, tetapi tantangan belum berakhir.

Tes doping yang menunjukkan kadar hormon tidak normal mengungkap kanker kembali, memaksanya menjalani kemoterapi.

Bagi banyak orang, ini adalah akhir karier. Namun, bagi Acerbi, ini adalah awal dari perjuangan baru.

“Dalam hidup, kamu harus terus melangkah, apa pun rintangannya,” ujar Acerbi dalam wawancara pasca-pemulihan.

Semangatnya untuk kembali berlatih bersama rekan setim membuatnya menjadi ikon ketangguhan.

Pada September 2014, ia kembali ke lapangan, membuktikan bahwa kanker tak bisa menghentikannya.

Kini, di usia 37 tahun, ia tetap menjadi starter andalan Inter dan diprediksi akan bermain di final Liga Champions melawan Arsenal atau PSG.

Dari Kasta Bawah ke Panggung Eropa

Perjalanan karier Acerbi tak kalah inspiratif. Hingga usia 22 tahun, ia hanya bermain di kasta bawah sepak bola Italia.

Baru pada 2010, Reggina di Serie B memberinya kesempatan. Debutnya di Serie A bersama Chievo pada 2011 menarik perhatian AC Milan, tetapi kariernya baru benar-benar bersinar di Sassuolo dan Lazio.

Pada 2022, ia dipinjamkan ke Inter Milan, dan setelah membantu tim mencapai final Liga Champions 2023, Inter mengontraknya secara permanen.

Sebagai pemain internasional Italia, Acerbi turut andil dalam kemenangan UEFA Euro 2020. Total 173 penampilan untuk Sassuolo, peran kunci di Lazio, dan kontribusi di Inter menunjukkan dedikasinya pada sepak bola.

Namun, yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya bangkit dari keterpurukan, baik di lapangan maupun di luar lapangan.

Mengapa Acerbi Menginspirasi?

Kisah Francesco Acerbi adalah perpaduan antara ketangguhan fisik, mental, dan emosional. Ia bukan hanya bek yang mampu menghentikan striker kelas dunia, tetapi juga penyintas kanker yang menolak menyerah.

Golnya di semifinal Liga Champions bukan sekadar momen olahraga, tetapi simbol harapan bagi mereka yang menghadapi rintangan besar.

Bagi penggemar Inter Milan, Acerbi adalah pahlawan. Bagi penyintas kanker, ia adalah inspirasi. Dan bagi dunia sepak bola, ia adalah bukti bahwa dengan tekad, mimpi besar bisa diraih, bahkan di usia yang tak lagi muda.

Apa berikutnya untuk Acerbi? Dengan final Liga Champions di depan mata, mata tertuju pada bek veteran ini.

Akankah ia kembali menciptakan keajaiban? Satu hal pasti: “Francesco Acerbi tak pernah berhenti melawan,” ujar seorang Interisti, Danilo.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini