Nasional, Jabarupdate: Batik Tulis Merawit Cirebon resmi ditetapkan sebagai ikon utama Hari Batik Nasional 2025, menandai perayaan nasional yang jatuh hari ini.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) dan Museum Tekstil Jakarta mengangkat tema “Batik Merawit” untuk rangkaian acara yang berlangsung hingga 30 November 2025, sebagai wujud apresiasi terhadap warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO sejak 2009.
Penetapan ikon ini diumumkan dalam Gerakan Batik Nasional (GBN) 2025 yang digelar di Pasaraya Blok M, Jakarta, pada 30 Juli hingga 3 Agustus lalu, dengan tema “Bangga Berbatik”.
Batik Tulis Merawit Cirebon dipilih karena keunikan pola halusnya yang mencerminkan kekayaan seni Cirebon, di mana setiap goresan garis tipis dibuat dengan teknik canting tembokan menggunakan malam panas, menghasilkan motif rumit tanpa putus di atas latar kain berwarna terang.
Pemerintah berharap penetapan ini mendorong masyarakat lebih mencintai batik lokal, sekaligus mendukung pelaku UMKM di sektor industri kreatif.
Hari ini, ribuan aparatur sipil negara (ASN) di seluruh Indonesia diimbau mengenakan batik sebagai bentuk partisipasi, sesuai ajakan Kementerian Dalam Negeri.
Di Jakarta, Museum Tekstil menjadi pusat utama perayaan dengan pameran interaktif yang menampilkan proses pembuatan Batik Merawit secara langsung.
Sementara itu, di daerah seperti Bandar Lampung, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Batik Cap di Pondok Pesantren Darul Fattah pada 16-20 September lalu, melibatkan puluhan peserta untuk melestarikan teknik tradisional.
Tema “Batik Merawit” sendiri sarat makna filosofis. Kata “merawit” merujuk pada kerumitan dan kehalusan motif, yang melambangkan kesabaran, ketekunan, serta harmoni budaya Nusantara.
Teknik ini tidak hanya estetis, tapi juga merefleksikan kearifan lokal Cirebon, di mana garis outline berwarna gelap kontras dengan latar muda, menciptakan efek elegan yang hidup.
“Batik bukan sekadar kain, tapi simbol identitas bangsa yang menyatukan keberagaman dari Sabang hingga Merauke,” ujar Ketua Bidang Pengembangan SDM YBI, Titik Imawati, dalam keterangan resminya.
Sejarah Hari Batik Nasional
Sejarah Hari Batik Nasional bermula dari upaya diplomasi budaya era Presiden Soeharto, yang memperkenalkan batik di forum PBB.
Puncaknya, pada 4 September 2008, pemerintah RI mendaftarkan batik ke UNESCO di Jakarta, dan diterima sebagai Warisan Budaya Tak Benda Manusia pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi.
Penghargaan itu memicu Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.
Sejak itu, perayaan tahunan ini tidak hanya memperingati pengakuan global, tapi juga mendorong inovasi perajin dan peningkatan ekonomi melalui ekspor batik.




