
Pakar ungkap alasan mengapa Iran ingin perang panjang lawan Amerika Serikat. Simak strategi asimetris Iran untuk kuras ekonomi dan teknologi militer AS di sini.
Global, Jabarupdate: Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu.
Namun, pakar Timur Tengah dan pengamat geopolitik, Pizaro Gozali Idrus, mengungkapkan analisis mengejutkan bahwa sebenarnya Iran ingin perang panjang demi menjalankan strategi asimetris untuk melumpuhkan kekuatan Amerika Serikat.
Menurut Pizaro, Iran tidak takut menghadapi kekuatan militer AS karena mereka telah mempersiapkan skenario untuk menguras teknologi dan ekonomi negara adidaya tersebut. Dengan menarik Amerika ke dalam konflik yang berlarut-larut, Iran bertujuan menghabiskan anggaran militer AS yang mencapai 1,5 triliun USD per tahun.
Strategi Perang Asimetris dan Penguasaan Selat Hormuz
Dalam teori perang asimetris, pihak yang dianggap lebih lemah secara ekonomi, seperti Iran, dapat memenangkan peperangan dengan memperlama durasi perlawanan guna menghabiskan sumber daya pihak yang lebih kuat.
Strategi ini menempatkan Amerika Serikat dalam posisi rentan karena setiap detik peperangan berarti pengikisan terhadap stabilitas ekonomi mereka.
“Iran justru mencari peperangan. Dia malah pengin perang ini panjang karena semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk perang, semakin habislah kekuatan negara superpower itu,” jelas Pizaro dalam sebuah diskusi di TV One, pada Rabu (8/4/2026).
Kunci keberhasilan strategi ini terletak pada dua hal utama:
1. Kontrol Selat Hormuz: Iran menjadikan penguasaan jalur logistik ini sebagai “harga mati” karena selama Selat Hormuz dikuasai, mereka tetap bisa bertahan meski infrastruktur internal mengalami kerusakan.
2. Dukungan Aliansi Global: Iran mendapatkan sokongan dari blok Rusia, Tiongkok, hingga BRICS yang siap membantu pemulihan ekonomi dan militer mereka.
Dukungan Teknologi AI Tiongkok
Keberanian Iran dalam melayani tantangan Donald Trump juga didasari oleh peningkatan kapabilitas militer mereka.
Sumber menyebutkan bahwa Iran kini mampu melakukan tembakan presisi terhadap pesawat tempur dan helikopter canggih Amerika Serikat berkat suplai teknologi Artificial Intelligence (AI) dari Tiongkok.
Kondisi ini membuat posisi Donald Trump terjepit, hingga pakar menjulukinya sebagai “pecundang” yang hanya kuat di retorika namun akhirnya “mengemis” gencatan senjata.
Trump dinilai gagal memperhitungkan bahwa Iran memiliki kesiapan mental dan aliansi geopolitik yang jauh lebih solid dibandingkan lawan-lawan AS sebelumnya.
Peran Mediasi di Balik Layar
Meskipun gencatan senjata dua minggu ini dijembatani oleh Pakistan, terdapat peran dominan Tiongkok yang bergerak secara senyap.
Tiongkok berkepentingan menghentikan eskalasi yang lebih luas untuk melindungi nilai investasinya di kawasan Teluk yang mencapai Rp4 kuadriliun atau sekitar 270 miliar USD.
Saat ini, dunia internasional melihat gencatan senjata ini hanyalah masa “bernapas sesaat”. Dengan fakta bahwa Iran ingin perang panjang sebagai tujuan strategisnya, kredibilitas Amerika Serikat kini dipertaruhkan jika mereka tidak mampu keluar dari jebakan konflik asimetris yang disiapkan oleh Teheran.



