Ragam, Jabarupdate: Roblox diduga jadi sarang predator anak setelah video pelecehan viral. Orang tua diminta waspada dan terapkan langkah pengawasan digital.
Game online populer Roblox kembali menjadi sorotan setelah video pelecehan seksual dalam permainan ini viral di media sosial.
Unggahan akun Instagram @gamestify.id memperlihatkan aksi tidak senonoh antar pemain, memicu keresahan di kalangan masyarakat, terutama orang tua yang anak-anaknya aktif bermain di platform ini.
Roblox diduga jadi sarang predator, isu ini menyoroti celah keamanan di fitur interaksi Roblox yang rentan disalahgunakan.
Keresahan Masyarakat dan Reaksi Netizen
Video yang beredar luas memicu reaksi keras dari netizen. Banyak yang mengungkapkan kekhawatiran atas keamanan anak-anak di Roblox.
“Bisa di blok aja nggak ini game di Indonesia, karena meresahkan,” tulis akun Instagram @putrisu.
Komentar lain dari @endriy*** menyatakan, “Waduh, padahal anakku sering mabar sama temannya.”
Ada pula yang menyerukan tindakan tegas, seperti akun yang menyebut, “KPAI, nah gini diurus yang bener @kpai_official.”
Laporan dari akun Instagram @gtid.news juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap aktivitas anak di dunia digital, khususnya pada platform seperti Roblox yang memiliki fitur chat dan pertemanan antar pemain.
Fitur ini, meskipun dirancang untuk interaksi sosial, ternyata menjadi celah bagi predator anak.
Kasus di Subang
Keresahan ini diperkuat dengan kasus nyata di Subang, Jawa Barat.
Dikutip dari Triberita pada Selasa (8/7/2025), Kusman, warga Soklat, melaporkan bahwa anaknya mendapat telepon dari pria dewasa tak dikenal yang mengaku tinggal di Bali.
Menurut Kusman, pelaku awalnya mendekati anaknya melalui Roblox sebelum berpindah ke komunikasi pribadi.
“Pelaku meminta anak saya mengirim foto dengan pose tidak pantas,” ungkap Kusman.
Beruntung, Kusman segera memblokir nomor tersebut, tetapi kasus ini menjadi peringatan serius tentang ancaman predator di ranah digital.
Modus Predator di Roblox
Roblox, dengan jutaan pengguna aktif di seluruh dunia, mayoritas anak-anak, menawarkan permainan kreatif dan interaksi sosial.
Namun, fitur komunikasi seperti chat dan pertemanan menjadi sasaran empuk predator. Berikut beberapa modus yang sering digunakan:
– Menyamar sebagai teman sebaya, dengan nama dan karakter menarik untuk mendapatkan kepercayaan anak.
– Menawarkan hadiah virtual, atau item game sebagai umpan.
– Berpindah ke platform lain, seperti WhatsApp atau Telegram, yang sulit dipantau orang tua.
– Menggali informasi pribadi**, seperti alamat, nomor ponsel, atau foto anak.
Cara Orang Tua Melindungi Anak
Untuk mencegah ancaman predator di Roblox, orang tua perlu mengambil langkah proaktif. Berikut tips yang disarankan:
1. Pantau aktivitas digital anak, termasuk dengan siapa mereka berinteraksi di Roblox.
2. Atur pengaturan privasi Roblox ke tingkat maksimum untuk membatasi interaksi dengan orang asing.
3. Ajarkan bahaya dunia maya dan larang komunikasi dengan orang tak dikenal.
4. Periksa riwayat chat dan interaksi anak di game secara rutin.
5. Batasi waktu bermain dan dorong aktivitas offline yang sehat.
6. Bangun komunikasi terbuka agar anak nyaman bercerita jika menemui hal mencurigakan.
Pentingnya Pengawasan Digital
Kehadiran predator anak di dunia maya bukan hal baru. Dengan meningkatnya penggunaan teknologi oleh anak-anak, pengawasan digital menjadi tugas krusial bagi orang tua.
Roblox, yang seharusnya menjadi tempat bermain yang aman, kini dihadapkan pada tantangan serius akibat celah keamanan.
“Game itu sendiri tidak buruk, tapi moral pemainnya yang bermasalah,” tulis salah satu netizen.
Roblox: Platform Game Populer yang Tuai Pujian dan Kontroversi
Roblox, platform game online dan sistem kreasi game yang dikembangkan oleh Roblox Corporation, terus mencuri perhatian dunia.
Dengan rata-rata 85,3 juta pengguna aktif harian per Februari 2025, Roblox telah menjadi fenomena global, terutama di kalangan anak-anak.
Menurut data perusahaan, separuh anak-anak di Amerika Serikat berusia di bawah 16 tahun adalah pengguna aktif bulanan platform ini.
Namun, di balik popularitasnya, Roblox juga menuai kritik tajam terkait keamanan dan moderasi konten.
Apa Itu Roblox?
Diluncurkan pada 2006 oleh David Baszucki dan Erik Cassel, Roblox memungkinkan pengguna untuk membuat dan memainkan game yang disebut “pengalaman” menggunakan bahasa pemrograman Lua dan Roblox Studio.
Platform ini menawarkan akses gratis dengan pembelian dalam game menggunakan mata uang virtual Robux.
Pengembang dapat menciptakan item berbayar, dan melalui program “Developer Exchange”, mereka bisa menukar Robux dengan uang nyata, menciptakan ekonomi virtual yang besar.
Roblox juga menjadi tuan rumah acara virtual seperti konser dan iklan dalam bentuk game (advergames).
Pertumbuhan Pesat Roblox
Roblox awalnya adalah platform kecil, tetapi popularitasnya melonjak pada akhir 2010-an, terutama selama pandemi COVID-19.
Pada 2020, lebih dari 5.000 game di platform ini telah dimainkan lebih dari satu juta kali, dengan 20 game mencapai lebih dari satu miliar kali dimainkan.
Keberhasilan ini menjadikan Roblox sebagai salah satu platform game terbesar di dunia, menarik jutaan pengguna, terutama anak-anak dan remaja.
Kontroversi dan Tantangan
Meskipun mendapat pujian atas kreativitasnya, Roblox menghadapi kritik keras terkait moderasi konten.
Banyak laporan menyebutkan adanya konten seksual atau ekstremis politik yang lolos dari pengawasan, menimbulkan kekhawatiran akan keamanan anak-anak.
Selain itu, platform ini dikritik karena transaksi mikro yang dianggap eksploitatif terhadap pengguna muda.
Akibat isu ini, Roblox telah dibatasi atau diblokir di beberapa negara, seperti Tiongkok, Turki, dan Yordania.




