
Ragam, Jabarupdate: Selama ini, banyak orang menganggap bahwa perilaku tumbuhan hanyalah hasil dari pemrograman genetik atau insting kaku yang tersimpan dalam DNA.
Namun, penelitian terbaru dalam bidang neurobiologi tumbuhan mengungkapkan bahwa tanaman mampu pecahkan masalah rumit dengan cara yang menyerupai kecerdasan hewan, meskipun mereka tidak memiliki otak.
Adaptasi Terhadap Lingkungan yang Dinamis
Dalam sebuah diskusi ilmiah yang dirilis oleh The Economist, para ahli menekankan bahwa lingkungan alam terlalu dinamis untuk diprediksi hanya melalui insting dasar.
Evolusi telah menciptakan makhluk penyelesai masalah (problem-solving creatures) di berbagai ceruk ekologi, termasuk flora.
Tanaman harus terus-menerus membuat keputusan krusial untuk bertahan hidup, seperti menentukan arah pertumbuhan menuju sumber cahaya atau mencari nutrisi di dalam tanah yang kompetitif.
Kemampuan ini disebut sebagai “kecerdasan tubuh” (body intelligence) yang memungkinkan mereka merespons perubahan lingkungan yang tidak terduga.
Kemampuan Belajar dan Memori Jangka Panjang
Salah satu bukti terkuat bahwa tanaman mampu pecahkan masalah adalah eksperimen pada Mimosa pudika atau putri malu.
Tanaman ini biasanya akan menutup daunnya saat merasa terancam oleh guncangan.
Namun, melalui proses pengkondisian, ilmuwan berhasil “mengajari” tanaman ini bahwa guncangan tertentu tidak berbahaya.
Hasilnya mengejutkan: tanaman tersebut berhenti menutup daunnya setelah menyadari bahwa rangsangan tersebut hanyalah “tipuan”.
Hebatnya lagi, memori atau pelajaran ini mampu disimpan oleh tanaman selama 28 hari. Hal ini membuktikan adanya proses penyimpanan informasi yang melampaui sekadar reaksi kimia sesaat.
Navigasi Presisi Tanpa Indra Penglihatan
Kemampuan pemecahan masalah lainnya terlihat pada tanaman merambat seperti kacang.
Melalui gerakan melingkar yang disebut circumnutation, tanaman kacang mampu mendeteksi keberadaan tiang penyangga bahkan sebelum menyentuhnya.
Beberapa ilmuwan menduga tanaman menggunakan mekanisme mirip ekolokasi pada kelelawar, di mana getaran suara dari pembelahan sel memantul dari benda sekitar dan ditangkap kembali oleh tanaman untuk menentukan arah tumbuh yang tepat.
Strategi navigasi ini menunjukkan tingkat kesadaran lingkungan yang sangat aktif.
Menyimpan Informasi Melalui Medan Bioelektrik
Tanpa adanya neuron atau sistem saraf pusat, muncul pertanyaan besar: bagaimana tanaman memproses semua informasi ini? Jawabannya terletak pada medan bioelektrik.
Penelitian oleh biolog Michael Levin menunjukkan bahwa setiap organisme multiseluler disatukan oleh bidang listrik yang mampu menyimpan informasi.
Medan bioelektrik ini memungkinkan sel-sel tanaman berkomunikasi dan berperilaku mirip dengan jaringan saraf pada hewan, namun dalam ritme yang lebih lambat.



