
Ciamis, Jabarupdate: Di tengah hiruk-pikuk Pasar Manis Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Supri Efendi (52) tetap setia menjalani profesi sebagai tukang sol sepatu selama puluhan tahun.
Warga Bojongmengger, Kecamatan Cijeungjing ini mengaku tak punya pilihan lain selain bertahan dengan keahlian yang dimilikinya untuk menghidupi istri dan dua anaknya.
Setiap hari, Supri memulai rutinitas dari pagi hingga sore di lorong Blok B Pasar Manis. Ia memperbaiki sol sepatu dan sandal pelanggan yang datang, meski jumlah order kini jauh menurun dibanding masa lalu.
“Dulu dalam sehari bisa mengerjakan 30-40 pasang sepatu atau sandal. Sekarang, kalau dapat 5 pasang saja sudah merasa bagus,” ujar Supri saat ditemui baru-baru ini.
Penurunan pendapatan ini, menurutnya, dipengaruhi oleh perubahan pola konsumsi masyarakat.
Banyak orang lebih memilih membeli sepatu atau sandal baru yang harganya semakin terjangkau ketimbang memperbaiki yang lama.
“Kalau dulu ramai sepanjang hari, terutama menjelang tahun ajaran baru saat anak-anak masuk sekolah. Sekarang hari-hari biasa terasa sepi,” tambahnya.
Meski demikian, Supri tidak menyerah. Untuk menambah pemasukan, ia sering menerima pekerjaan sampingan seperti membersihkan sampah di kios-kios sekitar pasar.
“Apa daya, ini satu-satunya keahlian yang saya punya. Cari kerja lain susah karena tidak punya skill lain,” katanya.
Kisah Supri mencerminkan realitas banyak pekerja informal di daerah pedesaan dan perkotaan kecil seperti Ciamis.
Di era modernisasi dan kemudahan akses barang murah, profesi tradisional seperti tukang sol sepatu semakin terjepit.
Namun, semangat bertahan Supri menjadi inspirasi: bertahan bukan karena mudah, melainkan karena tanggung jawab terhadap keluarga.
Supri berharap, meski tantangan ekonomi semakin berat, masih ada masyarakat yang menghargai jasa perbaikan barang bekas.
“Semoga ke depan ada sedikit peningkatan, setidaknya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” tutupnya.
Laporan: Maharaja



