Amerika Serikat Memveto Resolusi PBB Mendukung Gencatan Senjata di Gaza

Hasil gambar seorang anak kecil terpampang diantara reruntuha bangunan di Gaza
Hasil gambar seorang anak kecil terpampang diantara reruntuha bangunan di Gaza

Global, Jabarupdate: Amerika Serikat memveto (hak melarang secara mutlak) resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sudah didukung pada Jumat oleh sebagian anggota Dewan Keamanan dan puluhan negara lain.

Mereka menuntut gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza. Para pendukung menyebut keputusan Amerika Serikat sangat mengerikan dan dapat dipastikan akan banyak korban jiwa serta kehancuran yang sudah memasuki bulan ketiga.

Hasil pemungutan suara di PPB dengan jumlah anggita 15 negara itu adalah 13-1, dengan Inggris abstain. Sikap Amerika Serikat yang terisolasi mencerminkan negara ini mendukung atas pemboman Israel selama berbulan-bulan di Gaza.

Berbeda dengan Prancis dan Jepang termasuk di antara mereka yang mendukung seruan gencatan senjata. Para menteri luar negeri Mesir, Yordania, Otoritas Palestina, Qatar, Arab Saudi, dan Turki berada di Washington pada hari Jumat meminta Biden untuk membatalkan penentangannya terhadap seruan penghentian pertempuran. Namun, pertemuan mereka tidak berhasil.

Wakil duta besar AS, Robert Wood menyebut resolusi tersebut tidak seimbang dan mengecam PBB setelah pemungutan suara dan kegagalan untuk mengutuk serangan Hamas kepada Israel.

Robert Wood mengatakan kembali bahwa menghentikan aksi militer Israel membuat Hamas untuk terus memerintah Gaza dan hanya akan menanam benih-benih untuk perang berikutnya.

“Hamas tidak memiliki keinginan untuk melihat perdamaian yang langgeng, untuk melihat solusi dua negara,” ungkap Robert Wood sebelum pemungutan suara.

“Karena alasan itu, meskipun Amerika Serikat sangat mendukung perdamaian yang langgeng, di mana warga Israel dan Palestina dapat hidup dalam damai dan aman, kami tidak mendukung seruan gencatan senjata segera.”ungkap Robert Wood kembali melansir dari apnews.

Seperti yang diketahui serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 17.400 orang di Gaza. Para korban yang tewas meliputi perempuan dan anak-anak.

Serangan militer Israel juga melukai lebih dari 46.000 orang. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan bahwa Kementerian Amerika Serikat tidak membedakan antara kematian warga sipil dan para tentara.

Abushahab, diplomat UEA, mengatakan bahwa sebelum pemungutan suara telah berhasil mengumpulkan hampir 100 co-sponsor dalam waktu kurang dari 24 jam. Hal ini merupakan cerminan dari dukungan global terhadap upaya untuk mengakhiri perang dan menyelamatkan nyawa warga Palestina.

Setelah pemungutan suara, Abushahab menyatakan kekecewaannya mendalam atas veto Amerika Serikat dan memperingatkan bahwa Dewan Keamanan semakin terisolasi.

Duta Besar Nicolas De Rivière, Prancis, mengatakan bahwa anggota dewan tetap memiliki hak veto dan mendukung resolusi tersebut. Namun, menyesalkan kurangnya persatuan dan memohon gencatan senjata kemanusiaan yang baru, segera, dan langgeng yang akan menghasilkan gencatan senjata yang berkelanjutan.

Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Dmitry Polyansky, mengatakan bahwa pemungutan suara sebagai salah satu hari paling kelam dalam sejarah Timur Tengah dan menuduh Amerika Serikat telah mengeluarkan vonis mati bagi ribuan, bahkan puluhan ribu warga sipil di Palestina dan Israel, termasuk perempuan dan anak-anak.

Dmitry Polyansky mengatakan kembali sejarah akan menilai tindakan Washington dalam menghadapi apa yang dia sebut sebagai pertumpahan darah Israel tanpa ampun.

Tidak hanya itu, Kepala PBB merinci mimpi buruk kemanusiaan yang dihadapi Gaza, mengutip serangan Israel yang intens, meluas , dan menerus baik dari udara, darat dan laut

Serangan dari Israel dilaporkan telah menghantam 339 fasilitas pendidikan, 26 rumah sakit, 56 fasilitas kesehatan, 88 masjid dan tiga gereja. Lebih dari 60% perumahan di Gaza dilaporkan telah hancur atau rusak.

“Kami menolak hasil ini, dan kami akan terus menggunakan semua cara yang sah untuk menghentikan kekejaman yang menjijikkan ini,” kata Riyad Mansour, Duta Besar Palestina.

“Gencatan senjata memberikan hadiah kepada Hamas, membebaskan para sandera yang ditahan di Gaza, dan memberi sinyal kepada kelompok-kelompok teror di mana-mana,” ungkap Riyad Mansour kembali.

Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnès Callamard, mengkritik Amerika Serikat karena terus mengirimkan amunisi kepada pemerintah Israel yang berkontribusi pada pemusnahan seluruh keluarga.

Dan Louis Charbonneau, direktur PBB untuk Human Rights Watch, mengatakan bahwa dengan memberikan senjata dan perlindungan diplomatik kepada Israel, Amerika Serikat berisiko terlibat dalam kejahatan perang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini