Gaung Piala Dunia 2026 dinilai redup dibanding Qatar 2022. Pengamat senior Bung Ropan soroti dampak geopolitik Timur Tengah, format 48 tim yang sarat bisnis, hingga isu keamanan Timnas Iran di Amerika Serikat. Simak analisis lengkapnya!
Olahraga, Jabarupdate: Euforia menyambut Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dinilai belum mampu menandingi atmosfer semarak edisi sebelumnya di Qatar 2022.
Pengamat sepak bola senior, Roni Pangemanan atau yang akrab disapa Bung Ropan, menyoroti adanya perbedaan signifikan dalam “gaung” turnamen kali ini yang dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan perubahan format kompetisi.,
Bayang-bayang Geopolitik dan Ketegangan Global
Menurut Bung Ropan, salah satu penyebab utama redupnya antusiasme publik adalah eskalasi situasi di Timur Tengah yang melibatkan negara adidaya.
Keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut dianggap menciptakan atmosfer yang berbeda dibandingkan saat AS menjadi tuan rumah tunggal pada Piala Dunia 1994.
“Eskalasi yang terjadi di Timur Tengah ini seakan-akan membuat Piala Dunia itu tidak punya greget,” ujar Bung Ropan dalam wawancara dengan iNews, Kamis (7/5/2026).
Ia menambahkan bahwa hingga mendekati pelaksanaan, suasana di berbagai negara, termasuk Indonesia, masih terasa biasa-biasa saja tanpa gegap gempita yang biasanya sudah terasa sejak jauh hari.
Kritik Terhadap Format 48 Tim: Antara Pemerataan dan Bisnis
Selain faktor keamanan, Bung Ropan juga menyoroti perubahan radikal FIFA yang meningkatkan jumlah peserta menjadi 48 tim dengan total 104 pertandingan.
Meskipun FIFA mengusung misi pemerataan sepak bola global, Bung Ropan melihat adanya motif komersial yang sangat kuat di balik keputusan tersebut.
Ia menilai format baru ini berisiko menurunkan tingkat selektivitas turnamen.
“Ini menjadi sebuah bisnis besar yang sedang dibangun oleh FIFA untuk mengambil keuntungan besar. Negara-negara kecil pun akhirnya punya peluang untuk hadir, tidak seperti dulu lagi yang lebih terseleksi dengan bagus,” ungkapnya.
Tantangan Partisipasi Iran di Amerika Serikat
Ketegangan geopolitik ini juga berdampak langsung pada persiapan salah satu kontestan, Iran.
Muncul spekulasi mengenai jaminan keamanan tim berjuluk Team Melli tersebut saat berlaga di tanah Amerika Serikat.
Meski Iran sempat mengusulkan pemindahan lokasi pertandingan ke Meksiko, FIFA secara tegas menolak dan memastikan Iran tetap bermain di Seattle dan California.
FIFA melalui Presiden Gianni Infantino menegaskan bahwa sepak bola harus menjadi alat pemersatu.
Dukungan senada datang dari Presiden AS Donald Trump yang telah memberikan lampu hijau bagi Iran untuk tetap berlaga, dengan jaminan keamanan penuh bagi seluruh ofisial dan pemain.
Perbandingan dengan Kesuksesan Qatar 2022
Bung Ropan secara eksplisit menyebut bahwa penyelenggaraan di Qatar 2022 masih jauh lebih baik dalam hal atmosfer dan kesiapan jika dibandingkan dengan kondisi saat ini.
Konflik politik yang menyeret kepentingan tuan rumah Amerika Serikat dianggap menjadi noda yang membayangi kesucian lapangan hijau.
Meski demikian, FIFA tetap optimis bahwa Piala Dunia 2026 akan menjadi tonggak sejarah baru sebagai turnamen terbesar yang pernah ada, meskipun harus menghadapi tantangan diplomasi dan kritik atas komersialisasi sepak bola.




