Olahraga, Jabarupdate: Andre Onana, nama yang dulu mengguncang Liga Champions dengan aksi heroiknya bersama Inter Milan, kini justru jadi sorotan karena rekor pahit di Manchester United.
Bak bintang yang bersinar terang di langit Eropa, lalu meredup di tengah badai, perjalanan Onana bagaikan drama dua babak: megah di satu sisi, memilukan di sisi lain.
Apa sih yang bikin kiper asal Kamerun ini begitu kontras di dua klub raksasa ini? Yuk, kita ulas!
Kegilaan Andre Onana di Inter Milan: Raja Clean Sheet UCL
Dua tahun lalu, Andre Onana adalah pahlawan di bawah mistar Inter Milan. Di musim Liga Champions 2022/23, dia bukan cuma kiper biasa, tapi penutup gawang yang bikin lawan frustrasi.
Bayangin, tujuh clean sheet di UCL! Angka ini bikin kiper-kiper lain cuma bisa geleng-geleng kepala.
Nggak cuma itu, Onana juga mencatatkan 43 penyelamatan—rekor tertinggi di antara semua penjaga gawang di turnamen itu.
Salah satu momen epiknya? Ketika Inter melibas AC Milan 2-0 di leg pertama semifinal Liga Champions.
Onana berdiri kokoh bagai tembok raksasa, nggak membiarkan satu pun bola masuk ke gawangnya.
Nerazzurri pun melenggang dengan percaya diri, dan Onana jadi bintang lapangan. Keren, kan?
Dia seperti penjaga benteng yang tak tergoyahkan, siap menahan gempuran musuh dengan tangan dingin dan refleks kilat.
Tapi, cerita nggak berhenti di situ. Di sela-sela kesibukan UCL, Onana dan Inter juga berjuang keras di Serie A.
Dengan empat laga tersisa, mereka fokus mengamankan posisi empat besar, dimulai dari duel melawan Sassuolo.
Sayangnya, meski Onana tampil luar biasa, Inter harus puas jadi runner-up di final UCL 2023 setelah kalah dari Manchester City.
Tapi, hei, tujuh clean sheet dan 43 saves? Itu bukan prestasi sembarangan!
Tragedi di Manchester United: Tiga Final, Nol Trofi
Fast forward ke 2025, Andre Onana kini berseragam Manchester United. Harapan tinggi menyertai kepindahannya ke Old Trafford, tapi sayang, cerita di sini lebih mirip drama tragedi.
Final Liga Europa melawan Tottenham pada 22 Mei 2025 jadi babak kelam dalam kariernya. MU kalah 1-0, dan Onana mencatatkan rekor yang nggak diinginkan: dia jadi pemain pertama yang tampil di tiga final kompetisi Eropa dengan tiga klub berbeda—Ajax (2017), Inter Milan (2023), dan MU (2025)—tapi selalu pulang dengan tangan hampa.
Bayangin, dulu dia dikalahkan oleh MU saat membela Ajax di final Liga Europa 2017. Lalu, di Inter, dia lagi-lagi runner-up di final UCL lawan Manchester City.
Kini, di MU, Tottenham jadi penutup pilu dari trilogi kekalahannya di panggung Eropa.
Ibarat penutup buku yang selalu berakhir dengan air mata, Onana seolah terjebak dalam lingkaran kutukan final.
Tapi, jangan buru-buru nyinyir. Meski gagal di Eropa, Onana bukan tanpa prestasi. Dia pernah menggondol tiga gelar Eredivisie bersama Ajax, satu Coppa Italia di Inter, dan Piala FA bersama MU.
Jadi, meski panggung Eropa bikin dia gigit jari, di level domestik, dia tetap punya trofi untuk dibanggakan.
Apa Selanjutnya untuk Andre Onana?
Kini, Andre Onana dan Manchester United punya misi untuk menutup musim dengan manis.
Setelah kekalahan pahit dari Tottenham, mereka akan menjamu Aston Villa di Old Trafford pada 25 Mei 2025.
Ini kesempatan buat Onana untuk bangkit, membuktikan bahwa dia masih kiper kelas dunia yang dulu bikin lawan-lawan di Liga Champions tak berkutik.
Dari Inter ke MU, perjalanan Onana bagaikan roller coaster: penuh kejutan, tapi juga banyak tikungan tajam.
Di Inter, dia adalah raja yang tak terkalahkan. Di MU, dia seperti prajurit yang masih mencari kemenangan besar.
Akankah Onana bisa mengembalikan sinar kejayaannya? Kita tunggu saja aksinya di lapangan!




