
Jangan salah kaprah! Ini perbedaan vital antara Agama Yahudi dan Zionisme. Agama Yahudi adalah keyakinan spiritual, sementara Zionisme adalah gerakan politik yang berasal dari Eropa Timur. Pahami agar tidak mudah dimanipulasi.
Jakarta, Jabarupdate: Pengamat hubungan internasional sekaligus Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia, Prof. Suzie Sudarman, memberikan peringatan keras kepada publik agar tidak terjebak dalam kerancuan kognisi terkait isu Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa masyarakat dunia, khususnya Indonesia, jangan salah kaprah, inilah perbedaan vital antara agama Yahudi dan Zionisme yang harus dipahami secara mendalam agar tidak mudah dimanipulasi oleh kepentingan politik tertentu.
Agama vs Gerakan Politik
Menurut Prof. Suzie, perbedaan paling mendasar terletak pada hakikat keduanya.
Agama Yahudi adalah keyakinan spiritual yang menghendaki perdamaian dan tidak mengajarkan pengrusakan atau pembunuhan, serupa dengan agama-agama lainnya di dunia.
Sebaliknya, Zionisme bukanlah sebuah agama, melainkan gerakan sosial dan politik yang berasal dari Eropa Timur.
“Zionis itu bukan beragama. Dia adalah sebuah gerakan sosial yang berasal dari Eropa Timur yang mencoba menguasai pembuatan kebijakan pertahanan Amerika Serikat,” ujar Prof. Susi dalam sebuah wawancara di TvOne, Senin (6/4/2026).
Ia menambahkan bahwa kelompok Zionis ini memiliki ambisi politik yang melampaui batas kemanusiaan, termasuk upaya mewujudkan impian “Israel Raya” melalui cara-cara yang keji.
Taktik Menyandera Kebijakan Amerika Serikat
Dalam analisisnya, Prof. Suzie mengungkapkan bahwa kelompok Zionis sayap kanan di Amerika Serikat telah berhasil “menyandera” kebijakan luar negeri negara adidaya tersebut.
Melalui kelompok neokonservatif dan proyek-proyek strategis seperti Project for the New American Century hingga Project 2025, mereka berupaya mengatur ulang birokrasi AS agar selaras dengan kepentingan rezim Netanyahu.
Tujuan utamanya adalah memusnahkan negara-negara yang dianggap sebagai pesaing Amerika Serikat di Timur Tengah, sebuah konstruksi yang sengaja dibangun oleh kaum Zionis demi keamanan agenda mereka sendiri.
Kerancuan Kognisi dan Bahaya Genosida
Prof. Suzie menyoroti adanya “kerancuan kognisi dan diksi” di tingkat global. Banyak pihak di dunia merasa enggan atau takut untuk mengkritik tindakan Zionis karena khawatir dituduh menista agama Yahudi.
Kerancuan inilah yang dimanfaatkan oleh kelompok Zionis untuk terus melakukan praktik yang disebutnya sebagai genosida di Gaza tanpa mendapat sanksi yang berarti dari dunia internasional.
Bahkan, Prof. Suzie secara terang-terangan menyamakan gerakan Zionisme dengan Naziisme.
Ia berargumen bahwa jika dunia pernah bersatu melawan Hitler, maka dunia seharusnya memiliki keberanian yang sama untuk menghentikan gerakan Zionisme yang dianggapnya telah melakukan kejahatan perang.
Imbauan untuk Indonesia: Tetap pada Pancasila
Bagi Indonesia, pemahaman ini menjadi sangat krusial agar pemerintah dan rakyat tidak mudah tergiur oleh tawaran kerja sama atau kekayaan kelompok Zionis yang berkedok bantuan ekonomi.
Prof. Suzie mengingatkan agar Indonesia tetap berpegang teguh pada ideologi Pancasila dan UUD 1945.
“Kita harus bisa memilah agar rakyat paham bahwa Yahudi adalah agama, sedangkan Zionisme adalah gerakan yang harus dipunahkan dari muka bumi karena mereka begitu keji,” tegasnya.
Dengan memisahkan antara sentimen agama dan kritik terhadap gerakan politik, diharapkan Indonesia dapat mengambil posisi diplomatik yang lebih jernih dan tegas dalam membela kemanusiaan tanpa terjebak dalam jebakan ideologi yang menyesatkan.



