Global, Jabarupdate: Ketegangan yang terjadi di kawasan Teluk Persia sering kali disalahpahami sebagai persaingan kuno atau sekadar perbedaan ajaran agama.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa alasan utama negara Arab membenci Iran lebih berkaitan dengan pertarungan kekuasaan modern, keamanan energi, dan stabilitas ekonomi kawasan.
Ancaman terhadap Nadi Ekonomi Dunia
Bagi negara-negara Arab di Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, stabilitas adalah segalanya.
Kekayaan triliunan dolar dari minyak menuntut situasi yang terkendali agar kapal tetap berlayar dan investor merasa aman.
Iran, yang telah terbiasa hidup di bawah sanksi selama puluhan tahun, menggunakan strategi tekanan balik yang menghantam titik-titik vital ekonomi tetangganya.
Salah satu peristiwa paling menentukan adalah serangan terhadap fasilitas Abqaiq dan ladang Khurais di Arab Saudi pada 14 September 2019.
Serangan ini memangkas produksi minyak hingga 5,7 juta barel per hari-setengah dari produksi Saudi saat itu-dan memicu lonjakan harga minyak global hingga 15% dalam waktu singkat.
Insiden ini membuktikan bahwa gangguan singkat di titik strategis dapat menciptakan kepanikan global yang sulit dikendalikan oleh negara-negara Teluk.
 Kendali atas Selat Hormuz
Ketakutan negara Arab membenci Iran juga berakar pada posisi geografis Iran yang mendominasi Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini merupakan pintu keluar utama bagi energi dari Teluk Persia menuju pasar dunia.
Dengan garis pantai utara yang dikuasai sepenuhnya, Iran memiliki kemampuan untuk mengawasi, menghadang, hingga menanam ranjau di jalur pelayaran internasional tersebut.
Laporan menunjukkan bahwa Iran berulang kali melakukan penyitaan tanker, termasuk pada tahun 2023 dan awal 2024, yang memaksa perusahaan pelayaran internasional menghitung ulang risiko keamanan mereka.
Meskipun negara-negara Arab memiliki jalur pipa darat alternatif, kapasitasnya tidak mampu menggantikan volume minyak yang biasanya melewati Hormuz.
Transformasi Pasca-Revolusi 1979
Secara historis, hubungan kedua pihak berubah drastis setelah Revolusi Islam 1979. Sebelum tahun tersebut, Iran dianggap sebagai mitra yang pragmatis.
Namun, identitas baru Iran yang mempromosikan pesan politik anti-monarki dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan kerajaan-kerajaan di Teluk.
Sentimen ini diperparah oleh perbedaan identitas antara etnis Persia dan Arab, serta dinamika antara kelompok Sunni dan Syiah.
Negara-negara Arab melihat keberadaan komunitas Syiah di wilayah sensitif, seperti kawasan timur Arab Saudi, sebagai titik yang bisa dimanfaatkan Iran untuk memicu keresahan domestik lewat bahasa agama.
Strategi Perang Proksi dan “Logika Murah vs Mahal”
Iran menjalankan strategi pertahanan asimetris dengan membangun jaringan pengaruh di negara-negara yang lemah seperti Lebanon, Irak, dan Yaman.
Melalui kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi di Irak, Iran mampu menekan musuh-musuhnya tanpa harus terlibat dalam perang terbuka secara langsung.
Di Yaman, kelompok Houthi sering meluncurkan serangan drone ke kota-kota Arab Saudi. Di sinilah “logika murah melawan mahal” bekerja; Iran atau sekutunya cukup menggunakan drone seharga puluhan ribu dolar untuk memaksa Arab Saudi menggunakan rudal Patriot yang harganya mencapai 4 juta dolar per unit.
Strategi ini dirancang untuk menguras sumber daya keuangan dan stok pertahanan negara-negara Teluk secara perlahan.
Meskipun pada Maret 2023 Arab Saudi dan Iran telah sepakat memulihkan hubungan diplomatik lewat mediasi Cina, struktur persaingan tetap ada.
Selama keamanan energi dunia masih bergantung pada jalur sempit yang mudah diganggu dan tekanan melalui pihak ketiga terus berlanjut, kewaspadaan tinggi akan tetap menyelimuti hubungan antara Iran dan negara-negara Arab.




