
Nasional, Jabarupdate: Dua unit tanker Indonesia milik Pertamina International Shipping, yakni MT Gamsunoro dan Pertamina Pride, hingga Jumat (10/4/2026) dilaporkan masih tertahan di perairan Teluk Persia dan belum mendapatkan izin melintasi Selat Hormuz.
Situasi ini memicu kekhawatiran lantaran Pertamina Pride membawa dua juta barel minyak mentah yang seharusnya dijadwalkan tiba di Cilacap, Jawa Tengah, pada 2 April lalu untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan nasib kapal pengangkut energi dari negara tetangga. Sebuah tanker asal Thailand yang membawa 700.000 barel minyak mentah justru dilaporkan telah berhasil melintas dengan aman dan bersandar di dermaga Bangchak Corporation, Chonburi, pada Rabu (8/4/2026).
Ketimpangan ini memicu kritik keras dari para ahli mengenai efektivitas diplomasi luar negeri Indonesia saat ini.
Masalah Diplomasi dan Keraguan Geopolitik
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nostalgiawan Wahyudi, menilai tertahannya tanker Indonesia tersebut sebagai dampak dari akumulasi “gagap diplomasi” RI di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, posisi tawar Indonesia sedang diuji akibat pergeseran arah politik luar negeri yang dianggap semakin mendekat ke Amerika Serikat.
Beberapa poin krusial yang diduga menjadi pemicu keraguan Iran terhadap Indonesia meliputi:
*Â Â Keanggotaan RI dalam Dewan Perdamaian (BOP): Partisipasi Indonesia dalam organisasi bentukan Donald Trump ini menimbulkan tanda tanya besar di mata negara-negara Timur Tengah.
*Â Â Pernyataan Keamanan Israel: Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait jaminan keamanan bagi Israel memicu polemik luas, bahkan di kalangan kelompok moderat Palestina dan pemerintah Iran.
*Â Â Prioritas Diplomasi: Dalam rancangan kebijakan luar negeri terbaru, kawasan Timur Tengah dikabarkan tidak lagi menjadi prioritas utama diplomasi Indonesia.
Upaya Negosiasi dan Nasib ABK
Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Fahid Nabil Ahmad Mulakela, menyatakan bahwa pemerintah tengah mengupayakan negosiasi intensif untuk memastikan keselamatan dan kelancaran lintas kapal.
Proses ini mencakup penyelesaian masalah teknis seperti asuransi serta kesiapan kru kapal. Koordinasi terus dilakukan antara pusat di Jakarta, Pertamina, hingga pihak KBRI di Tehran.
Saat ini, terdapat 35 awak kapal (ABK) asal Indonesia yang terjebak di dalam kedua tanker Indonesia tersebut di tengah ketidakpastian keamanan.
Mereka merupakan bagian dari 281 WNI yang masih bertahan di wilayah Iran selama masa ketegangan berlangsung.
Mendesak Penataan Ulang Politik Bebas Aktif
Publik kini menanti hasil nyata dari negosiasi tersebut dalam masa gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Krisis ini dinilai sebagai momentum bagi Menteri Luar Negeri Sugiono untuk melakukan penataan ulang arah diplomasi agar tidak dianggap terlalu condong pada kepentingan Amerika Serikat.
Kejelasan posisi geopolitik sangat diperlukan untuk menjaga marwah prinsip politik “Bebas Aktif”.
Penyelesaian masalah tanker Indonesia ini bukan sekadar urusan logistik minyak mentah, melainkan pembuktian konsistensi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa, termasuk Palestina, tanpa mencederai hubungan diplomatik dengan aktor kunci di Timur Tengah.



