Perang Israel-Palestina: Warga Palestina Batalkan Perayaan Natal, Simak Penjelasannya

Global, Jabarupdate: Perang Israel-Palestina, membuat para warga Palestina membatalkan perayaan Natal karena Gaza telah mengalami kehancuran.

Sudah memasuki Bulan Desember, bulan yang dinantikan oleh seluruh umat Kristiani dunia untuk merayakan Natal, 24 sampai dengan 25 Desember.

Sayangnya, tidak untuk para umat Kristiani Palestina di Gaza karena banyak keluarga mereka yang terbunuh karena genosida yang dilakukan Israel.

Umat Kristiani yang tinggal di Gaza, biasanya ramai dengan parade dan dekorasi di musim perayaan Natal, tetapi Gaza di tepi barat telah diduduki Israel terlihat suram.

Genosida yang dilakukan Israel kepada warga Palestina di Gaza telah menewaskan lebih dari 17.000 orang dalam pemboman Israel. Sampai saat ini mayat-mayat masih ditarik keluar dari bawah reruntuhan.

Tidak hanya itu, banyak orang mencari keluarga yang mereka cintai karena hilang di tengah-tengah kehancuran berskala besar.

Para pemimpin Kristen dan pemerintah kota telah memutuskan untuk membatalkan semua perayaan publik, dengan alasan ribuan orang terbunuh dan meminta untuk para umat Kristiani untuk mendoakan perdamaian.

“Kami hanya akan mengadakan kebaktian tradisional dan renungan tentang makna Natal,” ucap Presiden Dewan Gereja-gereja Evangelis.

Presiden Dewan Gereja-gereja Evangelis juga mengatakan tidak akan ada perayaan selama genosida. Hal ini karena umat Kristiani juga terkena dampak dari agresi yang berlangsung di Gaza.

Presiden Dewan Gereja-gereja Evangelis juga menyarankan untuk merayakan Natal dengan cara yang lebih tenang ditengah keadaan duka.

Seorang Kristen Palestina dari Australia, Ryan al-Natour, mengatakan bahwa ia merasa perlu untuk membatalkan perayaan di sekitar wilayah Palestina yang diduduki.

Ryan al-Natour mengatakan kembali bahwa
sangat menjijikkan untuk merayakan Natal di tengah-tengah genosida yang sedang dialami oleh warga Palestina.

Tidak hanya itu, komunitas Kristen di Gaza berusaha melakukan yang terbaik untuk umat Kristiani. Sayangnya, Natal tahun ini akan sangat berbeda.

Melansir dari laman middleeasteye, Seorang penulis Palestina-Amerika yang tinggal di Philadelphia, Susan Muaddi Darraj mengatakan bahwa tidak terkejut dengan pembatalan perayaan Natal.

“Kami terkejut dengan kekejaman yang dilakukan terhadap warga sipil tak berdosa. Umat Kristen Palestina adalah bagian dari komunitas ini. Kami menahan diri dari perayaan merupakan tanda penghormatan kami terhadap jiwa-jiwa yang telah bangkit,”
ujar Susan Muaddi Darraj.

Masih melansir dari laman yang sama, pada wilayah Betlehem, para umat Kristiani rupanya menghias gereja dengan puing-puing sebagai bentuk solidaritas terhadap mereka yang terbunuh di Gaza.

Puing-puing yang ditumpuk dengan bayi Yesus yang diletakkan di tengah melambangkan kehancuran di Gaza dan lebih dari 7.000 anak yang telah terbunuh sejak 7 Oktober lalu. Lilin-lilin diletakkan di sekitar gundukan puing-puing serta patung-patung Kristen.

Sementara itu, Dewan Pemimpin Gereja Yordania mengatakan bahwa perayaan Natal akan ditiadakan. Banyak alun-alun kota, pusat perbelanjaan dan pepohonan yang biasanya dihiasi dengan dekorasi dan lampu-lampu pada waktu-waktu seperti ini.

Tahun ini tidak akan ada pasar Natal, parade pramuka, atau penyalaan lampu di pohon. Namun, kebaktian-kebaktian keagamaan akan tetap berlangsung. Dewan Pemimpin Gereja Yordania juga berjanji untuk menyalurkan donasi yang terkumpul untuk membantu orang-orang di Gaza.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini