Nasional, Jabarupdate: Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sejak beberapa hari terakhir menelan korban jiwa yang terus bertambah.
Hingga Sabtu (29/11/2025) pagi, tercatat 34 warga meninggal dunia dan 33 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa bencana ini telah melanda seluruh 20 kecamatan di wilayahnya.
“Data sementara yang kami terima hingga Jumat malam menunjukkan 34 korban meninggal dan 33 warga masih dalam pencarian,” ujar Masinton, dikutip dari lernyataan tertulisnya.
Banjir Tapanuli Tengah juga menyebabkan pemadaman listrik total di seluruh Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga.
Jaringan telekomunikasi dan internet mengalami blind spot, sehingga koordinasi dan komunikasi dengan daerah terdampak menjadi sangat sulit.
Akses darat menuju Tapanuli Tengah kini terputus total. Jalan lintas Sumatera dari arah Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, hingga Padangsidimpuan rusak parah akibat longsor, jalan ambles, dan sejumlah jembatan putus.
Pemerintah daerah terpaksa mengalihkan penyaluran bantuan logistik melalui jalur laut via Pelabuhan Sibolga serta jalur udara melalui Bandara Pinangsori.
Saat ini, 347 warga terdata mengungsi di Posko GOR Pandan, terdiri dari 89 pria dewasa, 96 perempuan dewasa, 109 anak-anak, 43 bayi, dan 10 lansia.
Namun, proses evakuasi masih terus berlangsung karena ribuan warga lainnya masih terisolasi di berbagai desa.
Beberapa titik kritis yang belum berhasil dievakuasi antara lain:
– Kelurahan Hutanabolon (30–35 KK)
– Desa Saormanggita, Kecamatan Tukka (sekitar 90 KK atau ±500 jiwa)
– Desa S. Kalangan II (250 KK)
– Desa Haloban Bair, Kecamatan Tapian Nauli (35 KK sudah mengungsi, 7 orang bertahan)
Pemda Tapanuli Tengah saat ini sedang menyiapkan Surat Keputusan Tanggap Darurat Bencana serta permohonan bantuan pangan darurat kepada Badan Pangan Nasional untuk memenuhi kebutuhan dapur umum dan posko pengungsi.
Meski hujan dengan intensitas tinggi mulai mereda pada Sabtu pagi, tim SAR gabungan masih kesulitan menjangkau wilayah-wilayah terisolasi akibat cuaca berkabut dan medan yang sangat berat.
Pencarian korban hilang dan evakuasi warga terdampak menjadi prioritas utama saat ini.
Banjir Tapanuli Tengah kali ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terparah yang pernah melanda kabupaten pesisir barat Sumatera Utara tersebut dalam satu dekade terakhir.
Pemerintah pusat melalui BNPB menyatakan siap memberikan dukungan penuh, termasuk pengiriman helikopter untuk evakuasi udara jika cuaca memungkinkan.
Masyarakat diminta terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah dan BNPB agar tidak termakan hoaks yang beredar di tengah keterbatasan komunikasi.




