Bandung Barat, Jabarupdate: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan mitra kerja telah gelar sosialisasi yang bertujuan untuk mengatasi masalah stunting.
Acara ini diadakan di Gemilang Futsal Arena, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat pada Minggu (8/10/2023) ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat tentang stunting dan cara mencegahnya.
Sosialisasi ini juga merupakan bagian dari komitmen BKKBN dan mitra dalam mendukung upaya pemberantasan stunting di seluruh negeri.
Dalam acara ini hadir Fazar Supriadi Sentosa, S.H., selaku Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat.
Kemudian Dr. Hj. Netty Prasetiyani, M.Si. selaku Anggota DPR RI Komisi IX, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung Barat, R. Eriska Hendrayana, S.IP, MM. Hadir juga Mantan Gubernur Jawa Barat DR. H. Ahmad Heryawan, M.Si.
Netty menjelaskan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang disebabkan kekurangan energi kronik selama 1.000 hari pertama kehidupan. Akibatnya, perkembangan otak anak hanya sampai anak dibangku sekolah dasar (SD).
Dia menilai, Stunting ini menjadi ancaman bagi masa depan bangsa. Pasalnya, anak stunting ke depan akan menggantikan para pemimpin bangsa.
Ia menegaskan, apabila sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Bandung Barat ini tidak unggul, tidak berkualitas, tidak sehat, mengalami sakit-sakitan karena stunting. Maka, ke depan akan menjadi bangsa yang tertinggal dan terbelakang.
Netty mengungkapkan bahwa stunting ini bisa dicegah. Namun, pencegahan ini dari sebelum pasangan menikah.
Menurut dia, perempuan yang melangsungkan pernikahan diharapkan sudah mencapai usia 21 tahun dan untuk laki-laki 25 tahun.
Hal itu perlu dilakukan agar cukup waktu untuk menyiapkan kesehatan pasangan, serta dalam membangun kemandirian ekonomi.
“Di dalam keluarga pun harus saling mendukung. Dimana seorang suami bisa mencukupi asupan gizi istrinya yang sedang hamil dan anak yang masih dalam tumbuh kembang,” ujar dia.
BKKBN dan Mitra Gelar Sosialisasi Stunting, Remaja jadi Sasaran
Sementara itu, Fazar Supriadi Sentosa mengatakan bahwa program percepatan penurunan stunting harus dimulai wawasannya sejak usia remaja.
Maka dari itu, BKKBN dan Mitra kerja gelar sosialisasi pemcegahan stunting dengan aidiens dari berbagai lalanga. Termasuk usia emaja.
Ia menegaskan, SDM yang masih berusia remaja harus memiliki pengetahuan tentang bahaya stunting dan penyebab terjadinya stunting.
Melalui kegiatan ini, lanjut dia, pihaknya berharap ratusan remaja di Kabupaten Bandung Barat bisa menjadi penyuluh sebaya.
Mereka, jelas dia, bisa bertugas menyebarluaskan informasi dan pengetahuan terkait stunting, yang mereka dapatkan dalam acara tersebut.
Ia mengungkapkan, Provinsi Jawa Barat memiliki jumlah penduduk yang paling padat. Maka dari itu, wilayah ini harus menjadi role model.
Ia mengungkapkan, remaja di Jawa Barat harus bebas stunting sebelum tahun 2024. Karena di tahun tersebut, Indonesia memasuki kondisi Bonus Demografi.
“Pada 2024 nanti, jumlah usia produktif di Indonesia akan lebih banyak dari pada jumlah usia senja. Makanya, remaja harus bebas stunting. Jadi, ketika mereka memasuki usia emas di tahun 2024, bisa bersaing dan berkontribusi untuk pembangunan Indonesia,” kata dia.




