Maraknya Bencana, Pelija Kabupaten Bandung Desak Pemerintah Audit Lingkungan

BANDUNG, Jabarupdate: Organisasi Peduli Lingkungan Jabar (Pelija) Kabupaten Bandung mendesak pemerintah audit lingkungan atas maraknya bencana alam yang terjadi.

Ketua Pelija Kabupaten Bandung, Sahrul Nur Awal, mengatakan bencana seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan semakin mengkhawatirkan akibat kerusakan lingkungan yang terus terjadi.

Menurutnya berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, sepanjang tahun 2024 tercatat 1.873 kejadian bencana, dengan rincian:

  • Tanah longsor: 540 kejadian
  • Cuaca ekstrem: 845 kejadian
  • Banjir: 261 kejadian
  • Gempa bumi: 18 kejadian
  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla): 190 kejadian
  • Kekeringan: 19 kejadian

Dari laporan Atlas Nusantara 2023, luas hutan yang tersisa di Jawa Barat hanya 259.576 hektare, sementara luasan lahan kritis terus bertambah.

Jawa Barat menempati posisi ketiga nasional dalam luas lahan kritis, dengan total mencapai 907.979,09 hektare.

“Kerusakan lingkungan ini disebabkan oleh konversi lahan, deforestasi, serta pengelolaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Aktivitas penebangan liar dan alih fungsi lahan semakin memperburuk situasi,” ujar Sahrul, Senin (10/03/2025).

Menurutnya, audit lingkungan menjadi langkah mendesak untuk mengevaluasi dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, memetakan potensi kerusakan, serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang ada.

“Dengan adanya audit ini, pemerintah dapat menentukan kebijakan yang lebih tepat dalam pengelolaan sumber daya alam, serta mengurangi risiko bencana yang lebih besar di masa depan,” ungkapnya

Sahrul juga menegaskan pentingnya rehabilitasi hutan untuk meminimalisir risiko bencana seperti tanah longsor dan banjir.

“Tanpa langkah konkret dari pemerintah dan masyarakat, kita akan menghadapi bencana yang lebih parah di masa depan,” tutupnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini